Monday, May 16, 2016

Aidu Studio Kreasi Lima Mahasiswa Salah Jurusan




Jalan Tuhan terkadang sulit dimengerti. Apa yang diharapkan tak selalu terpenuhi. Namun, di satu sisi, ada jalan lain yang terbuka, lebih mudah tanpa diduga. Hal inilah yang dialami oleh lima mahasiswa ini. Merasa salah jurusan, terjebak dalam ilmu tak terduga ternyata menjadi kekuatan mereka untuk bergerak dan bersatu. Itulah yang kini mereka lakoni. Kreativitas yang awalnya berdiri sendiri kini berlabuh dalam label yang sama, Aidu Studio.

Adalah Aditya Fitrianto, Fadhli Maulana, Lina Marlina, T. M. Marthunis, dan Muhammad Yussuf, lima mahasiswa Fakultas Teknik Elektro di salah satu universitas terbesar di Aceh, yang berani menjadikan hobi sebagai tempat mengumpulkan pundi. Awalnya kegagalan masuk Jurusan Desain Grafis mengharuskan mereka memutar ide agar tetap menjalankan passion yang telah dibangun.

“Kami semuanya suka desain grafis. Tapi sayang, di Aceh belum ada jurusan itu di universitas mana pun,” ujar Adit—panggilan Aditya Fitrianto—yang akhirnya mengumpulkan beberapa temannya untuk sama-sama kembali menghidupkan passion yang telah dibina sejak duduk di bangku SMA.

Adit mengaku, awalnya ia bergerak sendiri. Namun, seiring bertambah banyaknya pesanan produk dari konsumen, ia harus membentuk tim kecil agar mampu menjalaninya. Maka, ia pun menggandeng keempat teman kampusnya hingga terbentuk Aidu Studio pada 10 Maret 2015.

Nama Aidu pun memiliki makna tersendiri. Adit yang saat ini menjabat sebagai chief executive menceritakan bagaimana Aidu menginspirasi perjalanan usaha mereka.
Aidu itu artinya ‘lima’ dalam bahasa salah satu suku di India. Selain itu, pengucapannya ‘ai du’ (I do), bisa juga dimaknai ‘saya lakukan’. Jadi, kurang lebih, ‘bersama Aidu kami berlima bisa melakukan semua permintaan konsumen dengan kondisi apa pun’,” terangnya.

ini salah satu karya Aidu Studio
Masing-masing personel Aidu Studio memiliki keterampilan tersendiri yang menjadi kekuatan mereka. Aditya Fitrianto cenderung tertarik pada dunia ilustrasi dan desain gambar. Dari tangannya lahir banyak produk ilustrasi seperti sketsa, scrapbook, atau photoscap. Fadhli Maulana ahli di bidang videomaker, Lina Marlina lebih mampu di bidang kreativitas tangan seperti baju fanel, rajut, gelang suvenir, juga sketsa wajah. Sedangkan T. M. Marthunis dan Muhammad Yussuf ahli di bidang animasi dan graphic design.

“Jadi, kita di sini saling melengkapi. Jika ada order dari konsumen, kita tinggal plot-kan ke anggota yang ahli,” ujar Adit yang mengaku pernah mendapat pesanan paket lengkap dari sebuah lembaga bimbingan belajar di Banda Aceh.
“Mereka minta kita desain semua produk dari brosur, baju, video animasi, website, hingga membentuk branding lembaganya.”

Selama menjalankan usaha, Aidu Studio juga mengalami beragam kendala. Namun, ini bukan penghalang bagi mereka untuk serius menggarap apa yang telah dibangun selama ini. Perubahan serta ide segar selalu mereka gali mengikuti perkembangan tren saat ini. Termasuk juga menerapkan strategi marketing yang baik sekaligus membuka jaringan yang lebih luas.
“Kami aktif di media sosial, terutama di Instagram untuk memamerkan produk kami,” akunya.

Manfaat menggunakan media sosial pun dirasakan sangat besar. Setidaknya, setiap bulan Aidu Studio menerima minimal sepuluh pesanan dari berbagai kota di Aceh, bahkan hingga ke Sumatra Utara.
“Bagi kami, bergerak di Aidu Studio bukan lagi sekadar hobi, tapi sudah menjadi bagian dari pekerjaan.”

Menjadikan ini sebagai pekerjaan, fokus penggarapan pun menjadi tugas utama bagi mereka. Hal ini diwujudkan dengan selalu melakukan pembahasan serta evaluasi penjualan dan produk yang rutin dilakukan setiap bulannya di tanggal 10.
“Kita sengaja mengambil tanggal 10 biar sesuai dengan tanggal berdiri Aidu Studio,” Adit beralasan.

Usaha yang telah berjalan beberapa bulan ini pun semakin digarap serius. Saat ini Aidu Studio bekerja sama dengan banyak mitra untuk mendukung usaha mereka. Dukungan yang sama juga mereka peroleh dari orang-orang sekitar, baik keluarga maupun dosen. Akan tetapi, Adit tak menampik, masih banyak penghalang yang mereka alami di lapangan.

“Terutama bahan baku. Di Banda Aceh susah sekali cari bahan baku,” kata Adit yang pernah harus keliling Banda Aceh seharian hanya untuk mencari plastik mika. Selain itu, biaya cetak diakuinya juga terbilang mahal.

“Kita terkadang kepingin cetak di luar Banda Aceh, tapi ongkos kirim kemari terlalu mahal,” paparnya.
Namun, Adit punya tips bagaimana menjadikan Aidu Studio agar sukses dan tetap dilirik para pelanggan. Menurutnya, kunci utama adalah jangan terlalu mengambil banyak keuntungan agar proses produksinya terus berputar, dan tentu saja menjaga kualitas.

“Berjualan itu harus stabil. Kalau produknya bagus, pasti pelanggan datang lagi. Kalau nggak bagus akan ditinggalin. Sama kayak jual makanan,” ucapnya.
Saat ini, di matanya, dunia kreatif di Banda Aceh semakin semarak. Banyak muncul talent baru dengan beragam kreasi. Adit pun berharap potensi ini mampu digarap sebaik mungkin, sekurang-kurangnya ada wadah yang memfasilitasi kreativitas ini.

“Mungkin mahasiswa sudah harus diputar mindset-nya. Bekerja dengan orang boleh dan baik, tapi apa nggak lebih baik kita jadi salah satu yang menyediakan lapangan pekerjaan?” tanyanya. ***



Baca selengkapnya

Saturday, May 7, 2016

Nestapa Beulangong di Ateuk Jawo





Banda Aceh terus berbenah. Bersalin rupa dengan bangunan menjulang adalah penanda bergeliatnya pembangunan. Namun ini tidak berlaku bagi para pengrajin beulangong (belanga) di Desa Ateuk Jawo. Nestapa terasa merongrong pelan-pelan keberlangsungan usaha yang mereka lakoni sejak berpuluh tahun lalu. Setelah sepetak tanah leluhur tercemar limbah, mereka pun dihadapkan kesulitan mencari bahan baku; tanah liat.

Keluh kesah ini saya dengar dari Nuriah, seorang pengrajin, yang saya temui penghujung April lalu di rumahnya. Ia telah melakoni usaha ini sejak muda, bahkan usaha ini telah berlangsung turun temurun dari leluhurnya. Saat ini ia merasa lingkungan tidak lagi bersahabat. Hal ini dimulai setelah tsunami berlalu. Tanah luas di Desa Ateuk Jawo yang dulunya adalah sumber bahan baku usahanya, kini berubah menjadi barisan perumahan, pertokoan dan usaha lainnya.
“Setelah tsunami kami kesulitan mencari bahan baku. Tanah di sini semuanya dibangun perumahan. Makanya makin sedikit yang mau buat beulangong,” keluhnya.

Desa Ateuk Jawo sejak dulu dikenal sebagai salah satu daerah pengrajin beulangong di Banda Aceh. Desa di kecamatan Baiturrahman ini menghasilkan beulangong dengan kualitas baik jika dibandingkan daerah lainnya di Aceh. Keunggulan ini juga diakui Nuriah, “banyak orang yang ambil beulangong di sini, katanya lebih bagus dan kuat. Bisa jadi karena tanah di sini lebih bagus.”

Seorang pengrajin sedang membuat beulangong

Proses pembuatan beulangong terbilang cukup panjang. Tanah terlebih dulu dicampur pasir dalam takaran seimbang, lalu diinjak-injak hingga keduanya lumat dan siap dibentuk. Tahap selanjutnya, beulangong dijemur hingga kering lalu diwarnai dengan tanah kawie dan digosok dengan batu bulie hingga licin. Beulangong yang telah jadi lantas dibakar dalam tumpukan jerami hingga siap dipakai. Proses panjang ini ternyata dihargai murah, tidak sesuai dengan pengerjaannya yang lama. Untuk beulangong ukuran sedang misalnya, dihargai hanya Rp 12.500 per buahnya.

Geliat usaha ini semakin menurun. Nuriah sadar, usaha turun temurun ini lambat laun akan hilang sebab kurangnya pengrajin dan sulitnya bahan baku. Bahkan saat ini tercatat, di Desa Ateuk Jawo hanya tersisa lima pengrajin beulangong yang semuanya perempuan berusia lanjut. Padahal dulunya, produksi beulangong berkembang pesat di beberapa desa seperti Ateuk Munjeng, Penyeurat, hingga Neusu. Namun miris, ketersediaan tanah dan perubahan lingkungan masyarakat membuat usaha tradisional ini pelan-pelan meredup. Nyatanya hingga kini, hanya Desa Ateuk Jawo yang masih bertahan.

“Kami kesulitan cari tanah sekarang, semuanya berubah jadi perumahan. Dulu cari tanah paling gampang, tapi sekarang kami harus cari dimana orang gali pondasi di situ kami ambil tanah. Sering juga tanah yang kami ambil, kami simpan sampai berbulan-bulan untuk stock,” ujar Nuriah.

Usaha pembuatan beulangong telah berlangsung lama di Ateuk Jawo

Saya bersama beberapa pengrajin beulangong di Desa Ateuk Jawo

Lingkungan sekitar seakan tidak lagi bersahabat dengan usaha turun temurun ini. Berulangkali masalah ini dilaporkan ke Pemerintah Kota. Namun nyatanya tidak ada solusi hingga sekarang.
“Dulu Walikota janji kasih sepetak tanah untuk kami jadi sumber tanah liat. Tapi sampai sekarang tidak ada tanah itu.”
Bagi Nuriah dan pengrajin lainnya, sepetak tanah mampu menjadi penyambung kelangsungan usaha yang telah dilakoni lintas generasi ini. Sebab dulunya, mereka memiliki sepetak tanah yang dijadikan sumber tanah liat sebagai modal pembuatan beulangong. Tanah ini digunakan turun temurun hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.
“Kami punya sepetak tanah punya orangtua dulu. Dari sana dulunya kami ambil tanah liat berulang-ulang sampai berlubang dalam sekali. Tapi sekarang, orang-orang malah buang limbah ke sana. Jadi tanahnya tergenang air nggak bisa dipakai lagi. Nggak taulah mau buat gimana lagi...”

Hal serupa juga diakui Mak Ti, seorang pengrajin yang saya temui di rumah berbeda. Mak Ti masih memiliki tali persaudaraan dengan Nuriah. Di rumahnya yang sederhana, Mak Ti melakoni usaha serupa dalam usianya yang mendekati 80 tahun.
“Sekarang susah sekali cari tanah untuk bikin beulangong, nggak kayak dulu...” keluhnya.

Mak Ti lalu mengajak saya ke belakang rumahnya. Ia ingin memperlihatkan proses pembakaran beulangong sekaligus menunjukkan lokasinya. Saya mengikutinya dari belakang, melintasi kandang ayam dan bebek serta melompati parit kecil. Sebuah tanah lapang terbentang dikelilingi rindang pohon nipah. Beberapa bilah kayu bakar tersusun rapi di sudut-sudut pohon. Di bagian lain, jerami terbungkus rapi di dalam karung. Di tengah tanah lapang inilah Nuriah, Mak Ti dan tiga pengrajin lainnya membakar beulangong.
“Ini tanah orang. Saya tidak tahu harus buat apa lagi kalau tiba-tiba tanah ini dibangun ruko atau perumahan juga. Saya dengan kawan-kawan nggak tahu harus bakar beulangong dimana lagi.” keluh Mak Ti yang berharap memiliki mesin khusus untuk membakar beulangong.

Beulangong yang siap dibakar
Tanah ini seakan menjadi saksi bagaimana semangat sekelompok perempuan berusia lanjut meneruskan usaha tradisional beulangong. Tanah adalah permasalahan besar bagi para pengrajin ini. Tidak ada tanah berarti tidak ada kelanjutan usaha. Dan Nuriah yakin, jika ini terus berlangsung, maka usaha ini perlahan akan hilang. Setidaknya tiga desa telah membuktikan itu: Neusu, Penyeurat, dan Ateuk Munjeng yang dulunya dikenal sebagai sentral usaha beulangong dan tembikar kini tidak lagi berproduksi.

Semangat para perempuan beulangong mempertahankan warisan leluhur Aceh digempur dengan beragam persoalan. Bukan hanya minimnya pelakon yang ingin meneruskan produk lokal ini, tapi juga keterbatasan lahan sebagai sumber utama usaha beulangong. Kesulitan memperoleh tanah di tengah modernisasi Banda Aceh menjadi racun tersendiri bagi usaha yang digeluti kaum janda ini. Semangat sekelompok perempuan tua mempertahankan Desa Ateuk Jawo sebagai sentral produksi beulangong, seakan tidak diiringi keberpihakan lingkungan kepada mereka. Sudah semestinya, Pemerintah menyediakan lahan baru bagi mereka sebagai sumber tanah liat. Atau setidaknya, merevitalisasi kembali sepetak tanah warisan leluhur mereka yang kini telah bercampur limbah. 
***







Baca selengkapnya

Thursday, April 21, 2016

Pesona Bahari Sabang; Surga Pariwisata Aceh yang Menenangkan

dermaga di Iboih (sumber: sabangmarine.com)

Bagi saya, Sabang adalah tempat menenangkan dan mendamaikan. Ia serupa senyum Tuhan yang tertinggal di tengah Samudera Hindia dengan segala keindahannya. Saya ingat, pertama kali menginjakkan kaki ke kota ini pada awal tahun 2007. Saat itu, geliat wisata belum begitu bergaung seperti sekarang. Menumpangi feri dari pelabuhan darurat di samping masjid Baiturrahim, Ulee Lheue, saya tak banyak menjumpai turis asing ataupun wisatawan lokal. Kapal juga tak begitu padat. Jauh dari keramaian, baik di Ulee Lheue maupun di Sabang saat saya tiba.

Saya menganggap kota Sabang terlalu sepi dan nyaris seperti kota mati. Kedatangan pertama kali ini membuat saya heran serta kebingungan. Terlebih saat siang hari, kota ini nyaris seperti kota mati. Banyak pertokoan tutup dan menghentikan aktivitasnya. Saya yang datang dari Banda Aceh tanpa membawa sepeda motor menjadi kewalahan mencari makan siang. Terlebih lagi kota ini tidak ada angkutan umum yang lalu lalang di sepanjang jalan. Alhasil, saya pun harus berjalan kaki dari Masjid Raya ke Kota Bawah untuk mencari warung nasi. Hasilnya? Tidak ketemu! Akhirnya, saya hanya mengganjal lapar dengan mie instan. Kembali ke daratan saya berkesimpulan, Sabang tidak terlalu menarik. Biasa aja!

Konon ceritanya, menghentikan aktivitas siang hari di Sabang telah ada sejak masa kolonial Belanda. Dulunya, Sabang adalah kota pelabuhan yang sibuk sepanjang hari. Hampir rata-rata masyarakatnya menggantungkan hidup dari aktivitas di pelabuhan. Bongkar muat di pelabuhan kerap berlangsung pada malam hari. Karena alasan ini, mereka pun mengumpulkan tenaga untuk bekerja dengan beristirahat penuh pada siang hari. Sekaligus waktu ini digunakan untuk beristirahat menggantikan waktu tidur malam yang dipakai untuk bekerja. Kebiasaan ini terus terbawa hingga sekarang, walau nyatanya, pelabuhan Sabang kini tidak terlalu sesibuk dulu. Makanya banyak yang memplesetkan Sabang menjadi Santai Banget!

Itu cerita kali pertama saya berkunjung ke Sabang, nyaris sepuluh tahun lalu saat informasi belum bergeliat dan masyarakat belum sadar wisata. Tapi tak dinyana, tujuh tahun kemudian, tepat tahun 2014 saya kembali datang ke pulau ini. Pelatihan kantor mengharuskan saya mengikuti training hingga beberapa hari ke depan. Sempat berpikir, akan menginap dimana? Sebab bayangan saya, Sabang belum memiliki penginapan yang memadai untuk tempat pelatihan.

Pelabuhan Balohan terlihat dari atas
Rupanya pikiran saya berubah saat menjejakkan kaki kembali ke kota ini. Sabang jauh lebih maju dan terlihat lebih siap sebagai daerah wisata. Saya kaget saat sopir pelabuhan mengantarkan saya ke penginapan di atas bukit dengan view indah lautan lepas. Penginapan ini bagi saya terbilang bagus untuk seukuran pulau kecil.
“Penginapan di Sabang sudah banyak Bang, bagus-bagus.” ujar sopir sambil menyebutkan beberapa tempat penginapan di Sabang.

Saya mengangguk-angguk sambil searching di internet. Ternyata benar, Sabang semakin bergeliat. Penginapan tumbuh cepat dengan view pantai sebagai andalannya. Sabang semakin sadar bahwa denyut nadi kehidupannya ada di dunia pariwisata. Kota ini terasa lebih berdenyut dengan icon-icon baru sebagai tujuan wisata. Kota jauh tertata lebih apik, penginapan tumbuh menjamur, banyak lokasi wisata terbaru, ada penerbangan langsung dari Medan, dan yang paling terasa saat saya berkunjung ke Iboih, di sana wisatawan begitu ramai dan padatnya.

Saya menyukai landscape Sabang yang berbukit. Ada Kota Atas dan Kota Bawah yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakatnya. Pepohonan tumbuh rapat memberikan keteduhan dan kenyamanan saat beristirahat di taman-taman kota. Kota ini seakan menawarkan ketenangan dan kedamaian bagi siapa saja yang bertandang. Dan tanpa sadar, saya merasakan itu!

Di sini jauh dari hiruk pikuk modernisasi; tidak ada mall, tidak ada cafe gemerlap dengan musik menghentak, tidak ada outlet-outlet ternama di pusat kota, kehidupan tidak terlalu bebas, masyarakat masih menjunjung lokalitas. Sangking damainya, Sabang adalah sasaran utama saya untuk menenangkan diri setelah resign dari pekerjaan di bank yang ribet beberapa tahun lalu. Kesederhanaan ini yang akhirnya membuat saya jatuh cinta pada Sabang. Kejengkelan saya saat pertama kali datang ke Sabang beberapa tahun lalu, seakan buyar seketika.

Tanpa disadari, hingga sekarang, saya sudah empat kali bolak-balik ke Sabang. Berkeliling menikmati indahnya alam Sabang yang tak ada habis-habisnya. Keindahan ini seakan telah dimulai sejak dari pelabuhan Balohan menuju pusat kota. Saya kagum melihat bentang alam dan icon wisata baru bermunculan di Sabang. Seperti icon I Love Sabang di jalan Simpang Elak yang kini jadi tempat berselfie ria para wisatawan. Ternyata icon serupa juga ada di Teupi Layeun dan Nol Kilometer. Ini menurut saya cara efektif untuk mempromosikan Sabang di sosial media.

icon I Love Sabang (sumber: toursabangaceh.blogspot.com)

Bukan hanya di Simpang Elak, saya merasa Sabang adalah paket lengkap tujuan wisata dengan kekuatan masing-masing. Saya pernah merasakan teduhnya pantai Gapang dengan cottage kayu di bibir pantainya. Hal sama juga saya rasakan di Iboih yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Gapang. Di Iboih, saya seakan berada di aquarium raksasa. Taman lautnya begitu indah. Ada banyak koral dan biota laut yang hidup di perairan tenang ini. Terlebih fasilitas wisata terbilang lengkap di sini. Ada banyak penginapan, bertaburan alat snorkling dengan harga murah, bahkan yang tidak bisa menyelam bisa menaiki perahu kaca untuk melihat taman laut sambil mengintari Pulau Rubiah di depannya. Bagi saya, dari sekian banyak tempat wisata di Sabang, Iboih adalah juaranya.

pengunjung yang snorkling di Iboih


pantai yang tenang di Sabang

Saya juga sempat mengunjungi benteng Jepang di Anoi Itam dengan menapaki tangga terjal. Pemandangan di benteng ini luar biasa bagi saya. Tanah landai berrumput padat berbatasan langsung dengan Samudera Hindia yang luas. Pemandangan sama juga saya dapati saat memilih menginap di Sabang Hill yang letaknya di atas bukit. Dari sana, saya bisa melihat teluk Sabang dengan jelas.

Berkeliling Sabang menyadari saya bahwa kota kecil ini bukan sekedar menyimpan keindahan alam semata. Ada banyak lokasi menarik yang bisa dijadikan destinasi baru di Sabang. Saya menyadari itu, saat seorang teman di Sabang mengajak membeli oleh-oleh khas Sabang: dodol dan bakpia, langsung dari tempat pengerjaannya. Entah kenapa, melihat deretan pekerja membungkus dodol dan puluhan loyang penuh bakpia terasa menarik sekali. Saya berpikir, kenapa home industri ini tidak digarap menjadi tempat wisata seperti pembuatan rokok kretek di Kudus. Sudah selayaknya, wisata kuliner di Sabang digalakkan sebab ada banyak kuliner lezat di kota ini.

Sejarah panjang di Sabang juga bisa dijadikan andalan wisata baru. Pulau kecil ini dulunya menjadi benteng pertahanan ketika perang dan menjadi lokasi persinggahan kapal jamaah haji saat menuju ke Mekkah. Otomatis, di Sabang banyak ditemui tapal-tapal sejarah seperti gedung tua, benteng, hingga bunker. Kalau ini digarap maksimal, saya yakin akan banyak pilihan wisata baru. Saya teringat sewaktu berkunjung ke Padang dan melihat bunker masa penjajahan Jepang dirawat baik dan menjadi destinasi utama di sana. Tak salah, bunker-bunker di Sabang digarap serupa.

banyak spot menarik di Sabang untuk dijadikan lokasi foto
Tapi apapun itu, saya tetap menyukai Sabang dengan segala kesederhanaan dan keindahannya. Saya masih ingin menginjakkan kaki lagi ke sana berkunjung ke tempat wisata baru yang belum sempat saya kunjungi. Saya ingin berkemah di tepi danau Aneuk Laot, merasakan dinginnya air terjun di Desa Pria Laot, melihat langsung kawah volkano di Jaboi, merasa sensasi mandi air panas di Jaboi, makan berpiring-piring mie sedap, hingga mengunjungi Museum Abad Kejayaan Sabang. Ada banyak destinasi wisata yang membuat saya rindu Sabang sejadi-jadinya. ***


  tulisan ini diikut sertakan dalam lomba blog Sabang Marine Festival 2016





Baca selengkapnya

Tuesday, April 12, 2016

Sebelas Kuliner Aceh yang Patut Dicoba

Harus diakui, Aceh kaya dengan beragam daya tarik. Alam yang indah, budaya yang kental, masyarakat yang religius, hingga kuliner yang mampu menggoyang lidah. Daya tarik ini menjadi alasan kuat kenapa kamu harus segera melangkah kaki ke provinsi ujung barat Indonesia ini.
Setiba nantinya kamu di Aceh, selain menikmati beragam panorama indah, tidak salahnya juga menikmati kuliner Aceh yang lezat. Mencicipi kuliner Aceh terbilang mudah. Selain menu yang beragam, tempat yang mudah dijangkau, harga kuliner Aceh juga terbilang murah. Hemat kantong bagi para pelancong. Tapi walaupun harga miring, kelezatan cita rasa tetap diutamakan.
Nah, berikut ini, saya jabarkan sebelas kuliner Aceh yang patut dicoba saat berkunjung ke Banda Aceh.

1.     Mie Aceh
Mungkin dari banyaknya kuliner Aceh, ini yang paling terkenal: Mie Aceh! Kelezatannya sudah diakui dimana-mana. Menemukan kuliner ini juga tidak lagi sulit. Bukan hanya di Banda Aceh, di beberapa kota Indonesia Mie Aceh sudah mulai mudah dijumpai. Tapi menikmati kuliner ini langsung di tempat asalnya, tentu jauh nikmat. Sebab penyajian dan citarasanya lebih kentara. Mie Aceh disajikan dengan beragam campuran bumbu tradisional Aceh. Mie-nya pun lebih kuning, sebab diolah dengan bubuk kunyit di dalamnya. Kelezatan semakin nikmat sebab dibalur dengan acar bawang merah dan cabe rawit, serta disanding dengan renyahnya kerupuk mulieng/melinjo. Saat ini penyajian mie Aceh semakin variatif dengan beragam campuran seperti daging sapi, daging rusa, kepiting, udang, cumi, hingga daging kambing muda. Di Banda Aceh, lokasi Mie Aceh yang paling terkenal adalah Mie Razali di Peunayong, dan Mie Ayah di kawasan Syiah Kuala. 
Mie Aceh beragam penyajian (gambarwisata.com)

2. Sate Matang
Sate Matang termasuk kuliner andalan di Aceh. Tampilannya sama dengan sate kebanyakan, cuma beda dalam penyajian saja. Kalau di daerah lain, sate disandingkan dengan ketupat atau lontong. Sedangkan Sate Matang disajikan dengan bumbu kacang, kuah kaldu, dan nasi panas. Jadi jika mencicipi kuliner ini, meja akan terasa penuh dengan banyaknya piring. Sate ini menggunakan daging sapi atau kambing tanpa menggunakan lemak daging yang seperti biasa ditemui di sate kebanyakan. Potongan dagingnya pun terbilang besar. Hanya dengan satu porsi, pengunjung sudah dibuat kenyang. Biasanya jajanan Sate Matang di Banda Aceh dimulai sejak sore hari hingga tengah malam. Ada beberapa spot Sate Matang yang biasa diburu para pelancong. Seperti di area REX Peunayong, atau kawasan Lueng Bata. Satu porsinya berkisar Rp 20.000-Rp 25.000.
Sate matang disajikan dengan bumbu kacang (tribunnews.com)

3.     Kopi
Aceh terkenal sebagai daerah penghasil kopi. Ada dua jenis kopi yang terkenal yang dihasilkan di daerah ini, yaitu Robusta dan Arabica. Berkunjung ke Aceh tapi tidak menyempatkan diri untuk mencicipi kopi, rasanya rugi sekali. Aroma kopi Aceh khas sekali dan terasa pekat. Penyajiannya pun masih sangat tradisional dengan menggunakan saring yang diseduh langsung ke dalam gelas. Menemukan tempat ngopi di Banda Aceh juga bukan hal sulit. Banda Aceh dikenal sebagai kota seribu warung kopi. Hampir setiap langkah mudah ditemui warung kopi. Jika ingin menikmati kopi Aceh dengan suasana tradisional, tidak salahnya mencicipi kopi legendaris Solong di Ulee Kareng. Suasananya masih jadul. Jauh dari kesan ngepop layaknya cafe atau tempat nongkrong kebanyakan. Tapi disinilah keunggulannya, sebab semakin membuat pertemuan semakin intim ketika mengopi. Kopi Aceh dibandrol Rp.3000-Rp 5.000/cangkir.

Kopi Aceh beraroma khas (makanajib.com)

4.     Ayam Tangkap
Selain Mie, kuliner Ayam Tangkap termasuk yang paling hit di Aceh. Kuliner ini terbilang unik. Ayam kampung dipotong kecil-kecil, direndam dengan bumbu khas, lalu digoreng beserta cabe hijau, daun pandan, daun kari/teumurui dan bawang merah. Rasanya gurih renyah dengan bumbu yang harum. Dicocol dengan sambal kecap dan cabe rawit. Sekilas, tampilan menu ini sedikit berantakan. Potongan ayam berada dalam tumpukan gorengan daun. Sehingga untuk mencicipinya, pengunjung harus terlebih dahulu mengubek-ubek dedaunan. Jadi terkesan sedang mencari-cari ayam dalam tumpukan sampah. Makanya dulu, kuliner ini disebut ayam sampah. Satu porsinya berkisar Rp 20.000-Rp 30.000. Menemukan menu ini di Banda Aceh terbilang mudah. Hampir semua warung khas Aceh menyediakan Ayam Tangkap sebagai menu andalan.
Untuk menyantap ayam tangkap siap-siap bongkar daunnya dulu! (detiktravel.com)

5.     Kue Bhoi

Kue ini  sering disebut bolu ikan, sebab bentuknya menyerupai ikan koi. Kue ini diolah dengan cara dipanggang. Rasanya manis dan mampu bertahan hingga berbulan-bulan tanpa bahan pengawet. Paling enak dicicipi dengan teh manis panas. Sebab teksturnya padat, kue ini cepat bikin kenyang. Kue Bhoi bisa dijadikan oleh-oleh untuk kerabat. Untuk mendapatkannya pun terbilang mudah. Hampir semua toko souvenir di Banda Aceh menjajakan kue ini.
kue bhoi aka bolu ikan (tokokuekhasaceh.blogspot.com)

Selain kue bhoi, di Aceh juga terkenal dengan kue timphan. Ini kudapan khas Aceh yang dibalut dengan daun pisang muda lalu dikukus. Isinya beragam, mulai dari kelapa gula, durian, hingga asoe kaya (selai dari telur dan santan). Harga timphan hanya Rp 1.000/buahnya, dan mudah ditemui di warung kopi di Banda Aceh.

timphan dengan beragam isi (google.com)
  
7.     Rujak Aceh
Rujak Aceh termasuk kuliner yang dicari. Ada dua penyajian rujak Aceh, yang pertama buah-buahan seperti nenas, bengkuang, pepaya, ketimun, jambu dipotong kasar lalu dicampur dengan bumbu yang terdiri dari cabe rawit, gula merah, kacang tanah. Untuk menambah rasa pekat, bumbu ini terkadang dicampur dengan buah batok dan buah rumbia sehingga rasanya menjadi unik. Yang kedua, rujak yang biasa disebut buah segar.  Rujak jenis ini memisahkan potongan buah dengan sambalnya. Cara menyicipnya cukup mencolek buah ke dalam sambalnya. Di Banda Aceh lokasi kuliner rujak yang paling terkenal adalah Rujak Garuda. Lokasinya tidak terlalu jauh dari pintu belakang Masjid Raya Baiturrahman. Harganya pun tergolong miring berkisar Rp 8.000-Rp 10.000/porsi.
Rujak Aceh khas dengan kacang gorengnya (travelmulu.com)

8.     Martabak Aceh
Tampilan Martabak Aceh beda dari martabak kebanyakan di daerah lain. Martabak Aceh menggunakan lumpia yang dibalut telur yang telah dicampur bawang merah, cabe, dan daun bawang. Jika sudah matang, martabak disajikan dengan acar bawang merah dan cabe rawit. Harganya pun terbilang murah berkisar Rp 6.000- Rp 8.000/porsi. Martabak Ayah adalah martabak yang paling terkenal di Banda Aceh. Lokasinya di kawasan Peunayong.

Martabak Aceh dengan taburan acar bawang (food.detik.com)

sebaiknya dibaca: ini yang harus kamu ketahui saat tiba di terminal Banda Aceh


9.     Sie Ruboh
Sie Ruboh atau daging rebus adalah kuliner khas Aceh Besar. Kuliner ini terdiri dari potongan daging sapi yang direbus dalam beragam bumbu tradisional seperti cabe bubuk, kunyit bubuk, jeruk nipis, cabe rawit, hingga cuka. Dengan banyaknya bumbu, rasa kuliner ini sedikit meriah. Ada rasa pedas dan kecutnya asam cuka. Sie Ruboh ini dimasak dalam belanga tanah, dan mampu bertahan hingga berbulan-bulan. Cukup kembali dipanaskan saat ingin disantap ulang. Daging sie ruboh juga bisa diolah menjadi kuliner lainnya. Semisal digoreng hingga nanti menyerupai dendeng, atau disuwir-suwir menjadi abon. Kuliner ini mudah ditemui di beberapa warung nasi khas Aceh.
sie ruboh atau daging rebus (acehxpress.com)

10.Kuah Beulangong (Kari Aceh)
Kuah Beulangong ini kuliner khas dari Aceh Besar juga. Disebut kuah beulangong sebab dimasak di belanga besar. Kuliner ini juga kerap disebut kari Aceh. Biasanya dihidang ketika makan siang. Aromanya khas hadir dari beragam bumbu tradisional serta potongan buah nangka dan pisang muda. Selain itu juga ada potongan daging dan tulang, seperti daging sapi atau kambing. Saran saya, untuk merasakan kelezatan sempurna dari kuliner ini, cobalah disantap saat kuah masih terasa panas. Sebab jika sudah dingin, kaldu dan lemak daging akan muncul ke permukaan kuah. Untuk mencicipi menu ini pun terbilang murah, berkisar Rp 15.000-Rp 20.000/porsi. Hampir semua warung khas Aceh menyajikan kuliner ini. Di Banda Aceh, tempat kuah beulangong yang paling hit ada di kawasan Peuniti.
Kari Aceh yang dimasak dalam belanga besar (antaranews.com)

11. Sanger
Selain kopi, di Banda Aceh juga dikenal sanger. Ini minuman khas Aceh yang terdiri dari campuran kopi, susu kental, dan sedikit gula. Sangking nikmatnya minuman ini, setiap tanggal 12 oktober berlangsung sanger day, dimana beberapa warung kopi menyajikan sanger gratis. Konon kata sanger berarti sama-sama ngerti. Istilah ini dipopulerkan oleh mahasiswa di tahun 1990an. Kala itu, mahasiswa yang memiliki dana minim ingin menikmati kopi susu, namun kantong tipis disiasati dengan mencampuri susu dengan gula agar manisnya kentara terasa. Istilah itu terus bergulir hingga kini, dan menjadi minuman favorit di warung-warung Banda Aceh. Menikmati sanger hanya cukup merogoh kocek Rp 5000-Rp 8.000/porsi.

Sanger campuran kopi dan susu (google.com)

Nah, itu dia sebelas kuliner Aceh yang patut dicoba saat berkunjung ke Banda Aceh. Tunggu apa lagi, segera datang ke Banda Aceh, dan rasakan sensasinya kelezatannya.



Baca selengkapnya

Friday, April 8, 2016

Halo-Halo Bus Aceh

Ada beberapa nomor telepon armada bus di Aceh. sebagai referensi untuk perjalanan lebih mudah.
Ini bukan promo ya, tapi sekedar membantu mereka yang lagi bingung cari info tentang transportasi ke Aceh. Pasalnya di blog ini, tulisan yang ratingnya paling tinggi tentang bus Aceh. Dari penelusuran laman google pun, “bus Aceh” lumayan paling banyak di searching.
Yah, bisa jadi beberapa armada bus di Aceh belum menerapkan sistem online atau kelola website penjualan. Jadi para calon penumpang pun kesulitan untuk mencari info tiket penjualan. Paling banter, harus ke terminal atau ke loketnya langsung, dan itu bikin merepotkan untuk zaman sekarang.

Setelah posting beberapa tulisan tentang bus Aceh, saya lumayan sering ditanya ini itu sama teman-teman. Untuk sekedar tanya harga tiket, fasilitas bus, dan paling sering nomor kontak bus-bus di Aceh. 

Ada beberapa armada bus bisa dipilih. Sempati Star, Pusaka, Anugerah,  Kurnia, Putra Pelangi, New Pelangi, PMTOH, dsb.

Kalau New Pelangi kini ada tipe patas super executive Rk8 260 dengan 28 seats. Tampilannya mewah dan lux. Ada 2 TV plasma dalam bus bikin perjalanan nggak bosan. Juga tersedia dispenser untuk penumpang. Untuk ke Medan tiket dibandrol Rp 170.000-Rp 180.000*. Kalo tipe bus non stop 2-1 (18 seats), ke Medan tiket sekitar Rp 230.000*

Beda lagi dengan Bus Anugerah. Bus ini ada tipe Skyliner Mercedes-Benz 05005R1836 dengan kapasitas 30 seats. Interiornya mewah dengan kursi sofa yang empuk. Ukurannya lebih panjang, sekilas mirip bus-bus di Eropa. Ada fasilitas WIFI, dan karokean.
Untuk fasilitas dan harga hampir sama dan saling berdekatan. Bus Putra Pelangi fasilitas dan interior juga mewah. Tersedia beberapa tipe seats. Mau 32 seats sampe 18 seats. Harganya serupa dengan bus-bus lain. Di Bus Putra Pelangi tersedia ruang rilex, kursi pijat, trus juga plus WIFI.

Berikut nomor-nomor kontak bisa dihubungi,

CV Kurnia (bus Pusaka, Anugerah, Kurnia) di terminal Batoh Banda Aceh (0651) 32922.

Bus Putra Pelangi (0651) 32986 atau bisa langsung ke head office di jalan Muhammad jam Ujung no 3 Banda Aceh dengan nomor telepon (0651) 31387.

Bus Sempati Star
Kantor Banda Aceh (0651) 25616. Loket di Terminal Batoh (0651) 635078, 0852 6072 1356
Kantor Medan di Pondok Kelapa (061) 8440715. Loket Gajah Mada (061) 4516523, 0813 9702 7771
Lhokseumawe (0812 6454 6630), Langsa (0641) 23985, 0812 6344 4447

CV Sanura (0651) 31049



*harga tiket bisa berubah-ubah. Biasanya sekitar Rp 180.000 s/d Rp 250.000 (tujuan ke Medan)

Cerita-cerita lain tentang transportasi di Aceh

Baca selengkapnya

Tuesday, January 12, 2016

Teluk Jantang, Tempat Tuhan Menitip Senyumnya


Saya bersyukur tinggal dan besar di Aceh. Di daerah ini, menemukan pantai hanya selemparan batu. Ada banyak pantai dan alam indah yang mudah ditemui di sini. Salah satunya di Jantang, sebuah desa di kecamatan Lhoong, Aceh Besar.


Minggu kemarin (10/1), saya berkesempatan mengunjungi daerah ini dengan teman-teman kantor. Hanya butuh perjalanan sekitar 1,5 jam dari pusat Banda Aceh. Rasa lelah tidak terasa. Selain waktu tempuh yang sempit, jalan menuju ke sini juga terbilang mulus sekali. Lintasan Barat-Selatan Aceh serupa kualitas jalan di Amerika, sebab lintasan ini dibangun oleh USAID selepas tsunami silam. Mulusnya jalan, semakin nyaman dengan pemandangan yang dahsyat. Sebab di kanan kiri jalan, mata dimanjakan dengan lebatnya pegunungan dan  deburan ombak dari laut lepas.

Menuju Jantang, saya melewati pegunungan yang ranum. Jalan tetap mulus walaupun belokan serta tikungan terbilang banyak. Melewati kantor PT Lhoong Setia Mining (LSM), saya berbelok ke kanan memasuki lorong kecil. Di ujung sana, lautan lepas terbentang luas. Pohon cemara tumbuh teratur menambah kerindangan. Di tepi pantai, potongan kayu berserakan di atas pasir. Ternyata, di pantai Jantang ini para nelayan juga kerap membangun perahunya. Ada dua perahu besar yang sedang digarap tepat di bawah pohon cemara. Di ujung sana, puluhan nelayan sibuk menarik pukat menjaring ikan. Sebagian warga menonton seksama. Konon katanya, jika kita turut menarik pukat, para nelayan tak sungkan-sungkan membagi hasil tangkapannya sebagai wujud terimakasih. Tapi berhubung tujuan saya dan rombongan berbeda, niatan ikut serta menarik pukat ikan diurung.

Kami melaju pelan mobil ke ujung tebing. Seorang pria kampung berdiri mengatur parkiran. Masing-masing pengunjung dikenakan tiket masuk Rp 5.000. Melewati kuala berarus pelan, saya mendaki tebing. Hanya butuh beberapa menit saja, sebab tebing yang dilalui tidak terlalu tinggi. Dari atas tebing, saya melihat pantai sempit berpasir putih terbentang. Teluk Jantang, begitu orang-orang menyebutnya. Pantainya keren! Makin takjub, sebab lokasinya dikelilingi tebing batu sehingga air begitu tenang. Ia seperti dipagari. Sangat cocok untuk mandi, tapi tetap harus hati-hati karena batu karang lumayan banyak disini.



Tidak seperti pantai kebanyakan yang terbilang luas, Teluk Jantang terbilang sempit. Mungkin karena posisinya terkesan private. Makin sempit lagi, sebab sekitar pantai tumbuh pepohonan dan ilalang tinggi. Dan saya bersyukur datang kemari terbilang pagi. Sebab masih leluasa memilih spot untuk membentang karpet dan membakar ikan. Rombongan pengunjung setelah kami, kerepotan memilih spot. Bahkan sebagian dari mereka kembali balik arah. Ini catatan penting bagi yang mau bertandang ke Teluk Jantang. Usahakan datang lebih pagi, biar nggak rebutan lapak lokasi duduk.

Biarpun sempit, ada banyak keunggulan di Teluk Jantang. Selain ombaknya tenang, lokasi ini jauh dari hiruk pikuk. Terkesan seperti pantai pribadi. Yang hobi selfie, ada banyak view menarik yang bisa dipamerin di Instagram. Yang hobi mancing, Teluk Jantang kayaknya jadi surga baru. Soalnya, ada banyak pemancing yang menghabiskan waktunya disini.
Penasaran dengan Teluk Jantang, yuk datang! Pantai indah tempat Tuhan menitipkan satu senyumnya.


Baca selengkapnya

Tuesday, January 5, 2016

Nanti-Nanti Saja di Tahun 2015


Bagi saya tahun 2015 adalah batu lompatan menjalani kehidupan baru. Kehidupan yang lebih terasa dewasa, lebih terasa bertanggungjawab, menekan ego pribadi, hingga melepas sikap indivualistis yang menahun saya rasakan. Tepat Juli 2015, saya menikahi seorang dokter, Mira Susanti. Proses singkat yang kami jalani hanya tiga bulan sejak berkenalan, dengan 4 kali bertemu sebelum proses ijab qabul; saat taaruf, saat bertamu ke rumahnya menjumpai orangtua Mira, pembekalan di KUA, dan akad nikah di masjid.
Ini fase kehidupan yang benar-benar mengubah keadaan dan melengkapi kehidupan. Dari awal tahun 2015, feeling saya mengatakan kuat kalau saya akan menikah pada tahun itu. Walaupun sebenarnya tak tahu dengan siapa dan kapan waktunya. Dan lagi-lagi Tuhan mengatur cara yang teramat indah dan hasil menawan. Bagi saya, tahun 2015 merupakan tahun yang tak bisa dianggap remeh atau ala kadar. Sebab di tahun itu, di pundak saya telah bersanding bahu teman hidup. Tangan saya lebih kuat menggenggam. Ada banyak lajur kehidupan baru yang harus dilalui dan dihadapi.
Untuk kehidupan pribadi, saya merasa satu bab telah terlewati. Tapi disisi lain, ada beberapa bab yang gagal dipenuhi. Misalnya dalam berkarya. Jujur, untuk urusan berkarya, tahun 2015 saya terlalu banyak main-main. Ada banyak peluang yang hilang gara-gara sifat saya yang sering “nanti-nanti saja”. Gara-gara menunggu nanti-nanti saja, akhirnya proyek pribadi terbengkalai. Blog yang seharusnya mampu diisi dengan lebih maksimal nyatanya seperti bergerak di tempat. Nyaris kosong dan hanya mampu merakum sekitar 30 postingan dalam setahun. Adeuh!
Dari tahun 2014, saya berencana mulai menggarap serial Teller Sampai TelerAntrian Dua. Ide tulisan sudah dicatat rapi di buku notes hingga 20 judul. Saya prediksikan buku ini lebih tebal, dan tentu saja usaha yang diperlukan juga lebih maksimal. Target itu sudah mulai digarap sejak Desember 2014 dan berharap terbit di pertengahan tahun 2015. Nyatanya, semuanya tinggal ide. Idenya kemana, nulisnya kemana. Lembaran kertas di layar laptop tetap kosong. Cerita yang baru tergarap hingga sekarang hanya 4 judul. Jauh dari harapan. Sempat kesal sama diri sendiri, kesal dengan nanti-nanti saja, kesal saat orang-orang bertanya tentang lanjutan buku Teller Sampai Teler tapi sayanya masih gitu-gitu aja. Kesal saat orang-orang memberi apresiasi lebih tapi penulisnya masih malas-malasan. Ini buah nanti-nanti saja. Bersyukur saya nggak menerapkan hal ini saat memutuskan menikah. Hehehe..

Makanya di tahun baru 2016  ini, resolusi terbesar adalah menerbitkan serial lanjutan yang telah ketahan satu tahun lamanya. Yah, minimal tahun ini ada dua buku yang berhasil di tulis dan berharap berjodoh dengan penerbit terbaik. Nggak muluk-muluk. Dan berharap juga di tahun ini semakin giat menulis dan mengisi blog ini dengan lebih rajin.
Tapi walaupun kesal dengan sendiri, masih ada beberapa hal yang patut dibanggakan soal karya selama tahun 2015. Misalnya, pertengahan tahun 2015 kemarin, saya terpilih dalam 20 blogger yang berkontribusi menggencarkan dunia wisata di Aceh. Saya dan 19 teman lainnya menjadi kontributor selama 6 bulan di website Helloacehku.com untuk membangkitkan industri wisata. Ini pengalaman baru bagi saya sejak memiliki blog ini di tahun 2012 lalu. Semangat ngbelog pun semakin kembali tumbuh sejak ikut serta dalam gathering blogger Aceh akhir tahun lalu. Jadi walaupun tahun 2015 blog ini kurang tergarap maksimal, masih ada hal yang patut dibanggakan. walaupun cuma seuprit.
Hal sama yang patut dibanggakan juga, saat September silam, saya terpilih bersama 20 penulis Indonesia lainnya sebagai kontributor menulis buku 100 story travel Indonesia bersama Claudia Kaunang. Direncanakan buku ini terbit tahun kemarin, tapi sampai sekarang fisik bukunya belum sampai ke tangan saya. Ntah jadi diterbitkan atau ditunda terbit. Tapi yang penting royaltinya udah duluan mampir ke rekening. Buku ini membahas tips dan hal-hal penting saat berwisata di beberapa daerah di Indonesia. Direncanakan buku ini hadir dengan tiga edisi; Indonesia bagian barat, bagian tengah, dan bagian timur. Saya mewakili Aceh. Doakan semoga beredar segera di toko buku.
Nah itu dalam hal berkarya. Kalau dalam kehidupan pribadi ada juga PR yang harus saya tunaskan segera. Yaitu menamatkan Master Manajemen yang sedang saya tempuh saat ini. Sebenarnya, taerget pribadi, tahun kemarin mulai garap thesis ataua minimal sudah mengantongi judul thesis. Namun rupanya, nanti-nanti saja mewabah kuat. Thesis pun belum tergarap sama sekali hingga sekarang.

Berharap tahun 2016 ini semuanya bisa berubah. Tak lagi mendewakan nanti-nanti saja. PR penting yang tertunda sepanjang tahun kemarin bisa digarap dan berbuah maksimal. Buku bisa terbit kembali, thesis bisa digarap dan segera diwisuda, dan terutama menjadi imam yang baik bagi keluarga kecil saya.
Kalau kamu apa resolusi  2016??



Banda Aceh, 5 Januari 2016

Baca selengkapnya