#e39608 Lelaki Seberang Kota - Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

Lelaki Seberang Kota



Perempuan itu menebalkan gincunya. Bibirnya merekah. Alis dihitam melengkung sabit. Ia tersenyum sumringah. Menggerakkan badan didepan cermin. Merendahkan sedikit bajunya. Sambil menatap jam, ia mengacak rambut basahnya. Sudah pukul dua malam. Ia melirik ke pintu masuk. Kosong.

Gelisahnya tak karuan. Tak biasanya akhir pekan sesepi ini. Ia melongok keluar dari jendela. Menatap baris kursi panjang yang tak rapi. Pekerjanya, para gadis muda diluar  hanya melongo. Sebagian bergoyang mengikuti musik gegap. Asap rokok mengepul membentuk kabut dari mulut-mulut mereka.



“Mengapa bisa sesepi ini, ngeh? Sudah larut pula,” ia bersuara sambil berdiri didepan pintu bilik mungilnya. Gadis-gadis itu mengangguk pelan. Sebagian beranjak kearahnya. Sebagian tetap memilih duduk termenung ditemaram lampu.

Ia membenarkan tali baju yang melorot, “Tak biasanya lelaki-lelaki itu ingkar, terlebih malam pekan seperti ini,”

Gadis-gadis didepannya mengangguk pelan, “kami sudah berdandan sejak sore tadi. Tak ada yang singgah. Hanya pemuda mabuk yang sering menggoda,”

Cepat perempuan itu melangkah. Melongok keujung jalan. Air gemericik terdengar dari sungai kecil sebelah bilik. Jembatan melintang diatasnya. Penghubung dua kota berbeda. Dan dari arah jembatan sana, kota seberang, lelaki-lelaki itu sering muncul. Saban pekan. Kendaraan-kendaraan mereka memenuhi jembatan pembatas kota. Riuh. Sesak. Menuju kemari. Seperti ada yang menggebu-gebu kuat tak tahan dari tubuh mereka. Namun tidak malam ini. Senyap. Sepi.

“Kalian apakan lelaki-lelaki itu pekan kemarin, ngeh?!! Bikin mereka senang saja kalian tak becus!!” ia menuding gadis-gadis pekerja didepannya. Mereka tertunduk pelan. Mengigit bibir bawah ketakutan.

“Kami tak pernah membuat mereka kecewa, kami menemani mereka dengan baikk...” seseorang bersuara dalam ketakutan. Ia gadis paling merah gincunya malam ini. Ia masih sedikit risih dengan baju minimnya. Perempuan itu baru mengajaknya bergabung dua minggu lalu. Mengaturnya selayak ia mengatur gadis-gadis lain.

Asap rokok mengepul pelan. Perempuan itu melirik lagi jam ditangan kirinya. Matanya tetap berharap diujung jembatan. Bahh! Hampir jam tiga malam, tak seorangpun lelaki-lelaki itu datang. Puntung rokok dibuang. Dilumat dengan ujung sepatu high heelsnya. Angin malam mendera. Hawa dingin terbawa. Mengibas tubuhnya yang minim. Melecut kulit kerutnya. Ia tak bergeming. Sudah biasa saban malam.

“KAU! KAU!! KAU!!!” ia menunjuk geram kebeberapa gadis didepannya. Mereka terkesiap. “Kau bertiga, segera kesana!! Lihat apa yang terjadi. Ajak lelaki-lelaki kota seberang itu kemari. Goda mereka semampu kalian! Jangan kembali sebelum mengajak mereka..”

Tiga gadis bertubuh mungil itu bersiap. Merapikan rambut tergurainya. Membenarkan baju minimnya. Pelan mereka berjalan. Menuju jembatan panjang penghubung kampung seberang.

Limabelas menit berjalan, tiga gadis itu berbalik arah. Tergopoh-gopoh berlarian. Menenteng sepatu high heelsnya. Suara mereka nyaring ketakutan. Mengabarkan ada lampu-lampu pijar diujung jembatan yang menyalak terang. Menahan ratusan kendaraan milik lelaki-lelaki disana.

Perempuan itu ketakutan. Gadis-gadis muda itu berhamburan. Ia berusaha menenangkan. Melongok keujung jembatan. Memastikan apa yang terjadi. Benar! Ada cahaya terang menyalak diujung sana. Cahaya tak bergerak. Tertahan dibibir jembatan. Mobil patroli menutup muka jembatan. Dibelakangnya, ratusan cahaya juga menyala. Berkedip-kedip. Meraung diikuti klakson-klakson bising. Perempuan itu geram. Gemeretuk menahan emosi. Membenci para penahan-penahan itu.

Belum habis rasa penasarannya. Dari balik rimbun semak pinggir sungai seorang lelaki muncul. Tubuhnya kelelahan. Bajunya basah kuyup. Membentuk perut besar miliknya. Rambut tipisnya tersibak. Ia menyeberangi sungai berarus pelan dibawah jembatan.

“Kami dihadang!! Kami dihadang!!” lelaki berperut besar itu menunjuk keseberang sungai. Kota tempat ia berasal. Nafasnya tersengal-sengal. Ia bersandar dikaki meja. Melepaskan kelelahan. Gadis-gadis muda itu mendekat. Menyuguhkan air. “Hhhffhh..saya dilarang untuk masuk kemari. Kami dirazia. Orang tu menghadang dengan peraturan-peraturan. Terpaksa tinggalin mobil disana...” sambung lelaki itu.

Semenit kemudian, dua lelaki muncul seketika. Stelan jasnya awut-awutan. Rambut klimisnya tak lagi rapi. Sejumput rumput menempel dikerah baju kemejanya, “kami dilarang kemari. Mobil patroli tutup jembatan waktu kami kemari,”

Lelaki lain muncul lagi disudut berbeda. Badannya tegap. Basah. Membentuk otot-otot diperutnya. Ia membantu menarik lelaki dibelakangnya yang hampir tenggelam.

Gadis-gadis muda ketakutan. Sebagian berhamburan. Menutup tubuh mereka dengan kain rapat. Takut jika patroli-patroli itu akan meringkus mereka. Dinyalakan lampu agar bilik tak lagi temaram. Terang. Dipadamkan musik gegap. Seketika suasana berubah tak lagi remang.

Perempuan itu menenangkan. Ia berusaha berjalan diatas jembatan. Memastikan keadaan diujung sana. Mobil patroli dengan sirene berdesing menutup bibir jembatan kota seberang. Petugas berseragam menghalau lelaki-lelaki itu. Sebagian melongok kearah sungai.

Macammana ini, kita akan ditangkap mereka. Kami tak mau dikurung, dicambuk, kita harus larii...” gadis-gadis itu berkumpul didekat perempuan itu. Matanya sembab.

Perempuan itu menahan, “tidak perlu! Mereka tak akan berani kemari. Disini bukan tempat mereka. Tangan mereka tak mampu menguasai disini,” ia menenangkan gadis-gadis muda didepannya, “tenang,tenang..” lanjutnya sambil menepuk bahu-bahu mereka.

“Masih banyak lelaki-lelaki tak peduli hadangan ini. Mereka nekad untuk berenang. Lihat itu..” ia menunjuk kearah sungai. Puluhan lelaki mengarungi malam. Mencari jalan pintas, meninggalkan kendaraan mereka.

Para penghadang hanya melihat. Tak bisa berbuat banyak. Menghela nafas kekalahan. Perempuan itu tersenyum picik. Merapikan bajunya yang melorot, “kerja kita akan tetap sama seperti kemarin-kemarin. Jangan pedulikan para penghadang itu...”

Gadis-gadis muda itu sesenggukkan. Menghalau ketakutan. Dan menyeka airmata. Perempuan itu merangkul. Menggiring kembali menuju bilik.

Semenit kemudian. Lampu menyalak terang. Menyilau dari mobil-mobil patroli milik kota seberang. Bergerak mendekat. Cepat hingga menggebu menderu. Tersadar, perempuan dan gadis-gadis muda itu berlarian. Ketakutan. Jantung berdegup berlebihan. Jembatan berguncang. Mereka menutup tubuh-tubuh mereka dari serangan lemparan. Perih. Bertubi-tubi hingga memerah kulit mereka. Bau amis menyeruak. Lengket. Tersadar, telur-telur busuk melumuri tubuh-tubuh mereka.


Dimuat di Serambi Indonesia feb 2013

***

About Ferhat Muchtar

FERHAT MUCHTAR
Author/Tourism Writer. Dreamers. Ex Banker. Teller Sampai Teler.
Suka makan kuaci. Tukang koleksi buku.
email: ferhattferhat@gmail.com
Tulisan yang mungkin kamu suka × +

9 komentar:

  1. keren cara ceritanya, kami belum bisa buat cerita beginian T_T

    ReplyDelete
  2. hehehhe..sengkiyu Zaki ka saweu blog abg..

    ReplyDelete
  3. peruno cara teumuleh lage nyan lah bg, sang hayeu...
    blog lon agak hambar hahaha

    ReplyDelete
  4. nyoe pih baroe aktif teumuleh lom Ki.. terakhir dimuat tulisan april 2009. ka 3 thon vakum..

    ReplyDelete
  5. tulisan lon hana so muat bang hahaha

    ReplyDelete
  6. Inilah kamu yg sebenarnya fer. Sudah lah,,,,, kau harungi saja hidup dijalan ini. Rezeki ,Dia yg atur.

    ReplyDelete
  7. kok mau nya... pilih study tentang sastra tulis... go internasional qe...

    jangan lalee....

    ReplyDelete