#e39608 Jalan-Jalan Berwisata Ke Danau Toba (Serial Medan eps 1) - Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

Jalan-Jalan Berwisata Ke Danau Toba (Serial Medan eps 1)



Wisata Danau Toba−Beberapa hari lalu, saya mengikuti TFT (Training For Trainer) yang diadakan FLP Sumatera Utara. TFT semacam pelatihan khusus trainer kepenulisan. Acaranya berlangsung selama lima hari. Beberapa penulis ternama hadir sebagai pemateri; Gola Gong, Tere Liye, dan Boim Lebon.
Mewakili Aceh, saya hadir bersama Doni, Fakhrie, Husna, Laras, Syuhada, dan Dara. Di hari terakhir pelatihan, kami berkesempatan berwisata ke Danau Toba (Dantob). Bersyukur sekali, dengan isi dompet pas-pasan bisa sampai ke Dantob.

Berangkat ke Dantob tengah malam buta, sekitar jam setengah dua. Alasannya biar bisa kejar pagi di sana. Jarak perjalanan Medan-Dantob sekitar enam jam. Perjalanan malam bikin saya langsung nyenyak di minibus. Bangun-bangun, eh udah subuh.

Ini kali kedua saya ke Dantob. Dua tahun lalu, sempat datang ke tempat yang paling banyak difotoin untuk post card ini. Nggak banyak berubah. Kalau dulu nginap di hotel bintang lima yang paling elit di sana, kali ini saya dengan teman-teman lebih banyak menghabiskan waktu di pinggiran Danau Toba.

Merasa bangga bisa kembali kesini. Danau Toba termasuk salah satu danau terbesar di dunia. Kalau di kawasan Asia Tenggara, dia yang paling besar. Panjangnya aja sampai 100 km dengan lebar 30 km. Di tengahnya terdapat pulau vulkanik yang kerap disebut Pulau Samosir. Dipinggiran danau, kami bisa melihat tulisan "Samosir" kayak tulisan "Hollywood" di Mount Lee, Griffith Park. Tapi yang ini tersusun dari pohon-pohon hijau. Ditengah bukit lagi! Kreatif!
 
foto-foto dengan peserta TFT FLP Sumbagut
Baru tiba, kerasa kalau di Dantob ini ternyata dingiiinn sekali. Jaket keikat sampe leher tapi dinginnya tetap kerasa. Persinggahan pertama kami sempat foto-foto dengan latar danau dengan kuburan non muslim.
Memasuki kota, baru kerasa kalau disini padatnya merayap. Rumah penduduk berdempet-dempetan. Belum lagi penginapan; hotel, wisma, hostel yang bertumpuk-tumpuk nggak beraturan bikin kesan nggak tertib. Belum lagi jalan sempit dan sedikit acak kadut. Agak heran, ini tempat wisata bertaraf international tetapi kenapa kayak ngasal gini yak?!

Kalau masalah fasilitas Dantob lumayan lengkap. Penginapan dengan kelas melati sampe bintangan ada disini. Tapi ya itu tadi, berdempet-dempetan, bertubruk-tubrukan antar penginapan yang bikin kacau mata kalau dilihat. Nggak ada space yang bisa leyeh-leyeh. Semuanya berlomba-lomba bikin bangunan walaupun areanya udah tinggal se-uprit. Belum lagi sampahnya ya ampuunnn. Baru kali ini lihat bak sampah selebar gini. Dilempar kesana-kemari. Bungkusan mie instan paling banyak. Heran pada kemana tukang sapu dengan tong sampah.

Kami sempat berputar-putar mencari lahan parkir. Akhirnya minibus bisa berhenti di lahan kosong bersebelahan dengan danau. Di ujung sana, Pulau Samosir berkelebat dari balik awan. Bukit-bukit berjajar dengan pantulan matahari pagi. Wuiihh cakep!
Mencari sarapan pagi agak sedikit kesulitan disini. Selama keliling-keliling sambil mampir di kios-kios souvenir, saya cuma jumpai dua warung nasi muslim. Anjing berkeliaran dengan bermacam ukuran badan. Sesekali menggong-gong bikin takut. Di puncak bukit akhirnya kami memilih berkumpul. Tempatnya teduh. Pohon pinus menjulang tinggi. Tanjakannya lumayan curam, bikin lutut gempor saat jalan. Tamannya rapi, seseorang pria tua memotong rumput. Diatas bukit, sebuah rumah tua berdiri kokoh. Berarsitektur Belanda dengan paduan putih-hitam. Teras utamanya menghadap danau toba. Nah, itu rumah pengasingan Soekarno!
 
Rumah pengasingan Soekarno di tepi Danau Toba
Saya baru tahu, kalau Soekarno sempat mengasingkan diri di pinggiran Danau Toba. Nggak kebayang sewaktu dia mengasingkan diri tempo dulu. Sekarang aja jalannya mulus tetap meliuk-liuk, gimana tempo dulu, yak?

Kepingin tahu banyak, saya langsung menuju ke atas. Melihat lebih dekat rumah tua itu. Seseorang wanita paruh baya keluar dari sisi kiri rumah,
"Rumahnya nggak boleh masuk. Bapak nggak ada..." ujar perempuan itu merujuk ke "bapak" pemilik rumah.

Rupanya, rumah ini udah beralih fungsi. Entah berubah menjadi apa. Kayaknya jadi tempat tinggal pribadi sekaligus kantor. Entahlah nggak ngerti. Padahal kepingin tahu banyak, tapi sayang, nggak ada prasasti yang menceritakan ringkas tentang rumah ini. Dari bapak yang nyapu halaman saya akhirnya tahu kenapa rumah ini sulit diakses orang banyak, "nanti barang-barang disana takut hilang kalau rame-rame (orang)..."

Yaellahhhh... segitunya.

Nggak tau ngapain. Kami turun menuju pinggiran Danau Toba. Dan di sinilah bernorak-norak gembira dimulai. Alamnya keren sekali! Airnya tenang. Yang bikin makin takjub, awan di Dantob keren sekali bentuknya! Semburat-semburatnya bagus! Paduan gunung, air, dengan awan yang keren bikin kami tergila-gila untuk foto. Padahal belum mandi dengan sarapan. Masa bodo, yang penting gayaaaa...
 
Feri menuju Pulau Samosir
Puas foto-foto kami berniat menyeberang ke Pulau Samosir. Rasanya kurang afdhol kalo udah tiba di Dantob tapi nggak nyebrang ke Pulau Samosir. Jaraknya pun nggak terlalu jauh. Kalau naik speedboat mungkin kisaran 15 menit. Kami memilih naik feri. Bentuknya lebar. Bisa menampung sekitar 60 orang. Karena perginya rombongan, kami sepakat untuk sewa feri. Jarak tempuhnya sekitar 40 menit. Tapi berhubung kami keliling melihat batu gantung yang melegenda itu, waktu tempuhnya pun lebih lama. Penasaran, itu batu kok bisa ngegelantungan di bukit ya? (bersambung)

KLIK DI SINI untuk cerita selanjutnya





About Ferhat Muchtar

FERHAT MUCHTAR
Author/Tourism Writer. Dreamers. Ex Banker. Teller Sampai Teler.
Suka makan kuaci. Tukang koleksi buku.
email: ferhattferhat@gmail.com
Tulisan yang mungkin kamu suka × +

2 komentar:

  1. wah, ceritanya seru..
    waktu di TFT gimana?
    seseru itu kah? 0_0

    ReplyDelete