#e39608 Miris! Masjid Ini Dihancurkan Setelah Selamat Dari Tsunami Aceh - Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

Miris! Masjid Ini Dihancurkan Setelah Selamat Dari Tsunami Aceh

masjid seberang PLTD Apung
Ketika ikut jelajah budaya sebulan lalu, salah seorang pemateri pak Nurdin, ketua Museum Aceh berujar kalo ada empat sifat yang begitu melekat yang kesannya telah menjadi "budaya" di Aceh.

Aku nggak ingat semuanya, cuma dua yang kuingat lekat; orang Aceh itu termasuk yang gampang terpengaruhi. Ada hal-hal baru asing, mudah terbawa. Trus yang bikin sedikit mengernyit, pak Nurdin berujar, kalo orang Aceh itu termasuk  yang suka mendestroyed (merusak/memusnah) sejarahnya sendiri.
Dia mengambil contoh, kerajaan Aceh yang mahsyur penuh cerita-cerita besar tapi yang tersisa hanya secuil saat ini. Banyak bangunan yang tak tahu kemana, hanya beberapa yang ada; Mesjid raya Baiturrahman, Gunongan, Pinto Khop.

Fakta lainnya pun tampak. Ketika esok hari, jelajah budaya lanjut mengunjungi Mesjid Indrapuri. Mesjid tua itu konon tempat melantik Sultan Aceh terakhir, tapi kini bangunan sedikit berubah.

Masjid lantai ditinggin, ditimbun. Lantainya berubah jadi marmer ala sekarang bukan lagi ubin-ubin zaman dulu. Tameh tiang tenggelam nggak nampak lagi. Masjid menjadi lebih rendah. Jamaah dengan gampang melongok keluar. Padahal Masjid ini historisnya dirancang sebagai benteng pertahanan. Tapi makna filososfisnya pun bergeser.

Salah satu arkeolog yang ikut jelajah budaya mencak-mencak, ini merubah sejarah! Menambah, mengurangi, merubah bentuk, termasuk hal yang dilarang dalam undang-undang kebudayaan. Yang ginian aku nggak ngerti lengkapnya gimana.
Kata orang kampung, masjid ini baru "ditambal" dua tahun lalu.



Hmmm...
Lalu kemarin sore. Iseng aku jalan-jalan ke PLTD Apung. PLTD Apung itu kapal diesel yang beratnya sampai 2600 ton, nyungsep di tengah pemukiman penduduk di Punge Blang Cut.
Kapalnya besar. Panjangnya aja sampai 63 meter dan lebar 19 meter. Ini salah satu bukti ganasnya tsunami Aceh 2004 silam.


Setiap kali aku berkunjung kemari, aku selalu memarkir motor di halaman mesjid Subulussalam. Letaknya hanya berseberangan dari kapal besar itu. Secara logika, dengan air tinggi dibantu dorongan PLTD Apung yang bergerak, mungkin aja Mesjid ini penyot sana sini kena tsunami.
Tapi nyatanya nggak. Tetap sehat bugar. Kembali lagi, mungkin ini salah satu dari banyaknya keajaiban tsunami. Kokohnya mesjid menjadi kisah tersendiri tentang tsunami suatu kelak. Beberapa puluh tahun kemudian.

Kokohnya berdiri mengundang decak orang-orang berkunjung. Lha, kok bisa mesjid di seberang jalan tapi bisa selamat sentosa. Seingatku aku pernah shalat disini sebulan setelah tsunami.
Ketika berkeliling kota dan melihat kapal besar itu, aku shalat asar disana. Masih tampak bekas garisan air tsunami di dindingnya.

Memarkirkan motor disini sedikit kemudahan. Selain tak perlu berdesak-desakan di parkiran PLTD Apung, aku juga bisa leyeh-leyeh di teras mesjid sebelum pulang.
Seingatku mesjid ini berarsitektur lama. Kubahnya dari beton polos dicat hitam. Tiang mesjidnya kecil. Lantainya juga ubin standar. Teralis jendela hanya besi-besi kecil. Halamannya terbilang luas.

Dalam benakku, aku akan menyerupai suasana serupa. Maka ketika memasuki kawasan Punge Blang Cut kemarin sore, aku bersegera mengarahkan motor kearah mesjid. 

Tapi..lha..lha...

"Tynn!! Masjidnya mana??!" Aku berteriak ke seorang teman yang ikut serta.
Berdua kami melongok kearah depan mesjid tempat aku sering leyeh-leyeh kalo berkunjung kemari.
Masjidnya hilang! Lebih tepatnya “diruntuhkan”.

Haduuhh!!

"Lagi di renovasi mungkin hat," teman sebelahku berujar.
Aku melongo, "ini namanya bukan direnovasi..." sahutku.
Berdua kami mematung di gapura mesjid. Nggak ada lagi mesjid dengan kubah hitam, dan lantai ubinnya.
Mesjidnya blassh rata!

Sekarang, ditempatnya berdiri dulu puluhan tukang bejibaku mendirikan masjid baru. Merombak bentuknya. Tiang-tiang pondasi dari besi tebal tertancap dimana-mana. Papan kayu penahan adukkan semen melingkar dibeberapa bagian.
Sebuah bangunan berdiri di pojok pagar, menjadi mesjid "sementara" bagi pengunjung. Sejarah kokohnya mesjid itu hilang. Lenyap.




Kekagetan ini saya adukan ke salah seorang guide di area PLTD Apung, yang kebetulan warga disana. Ia juga menyayangkan "penggusuran" masjid dan membangun masjid baru yang lebih luas. Menurutnya sebelum dihancurkan, sempat terjadi pro kontra sesama warga.

Melihat mesjid itu kemarin sore, saya teringat lagi obrolan dengan pak Nurdin sewaktu jelajah budaya sebulan lalu.

Terserahlah, mungkin niatnya baik kepingin masjidnya lebih luas dan menampung jamaah lebih banyak. Atau memang ada kerusakan parah di bangunannya. Wallahu'alam
Tapi andaikan mesjid lama masih ada, mungkin 20 tahun kemudian cerita tentang  tsunami dan PLTD Apung ini terasa lebih lengkap. Anak-cucu masa depan bisa melihat bagaimana mesjid yang tegak berdiri dengan arsitektur zaman dulu.

Menurutku memang tidak semua kita (ureueng Aceh) suka mendestroy budaya sendiri. Ada beberapa dari kita bahkan tetap teguh ingin mempertahankan suatu objek agar menjadi cerita sejarah utuh.
Contohnya, rumah tsunami di kawasan Punge Jurong. Rumah dipinggir jalan menuju Ulee Lheue ini tetap dibiarkan apa adanya sejak tsunami lalu. Beberapa bagian dipugar dengan indah. Kayaknya ini inisiatif dari keluarganya sendiri.



Ataupun perahu besi milik KPLP yang terdampar ditengah pemukiman penduduk di Punge Blang Cut. Aku sempat singgah, mengobrol dengan ibu-ibu disana yang ternyata begitu semangat mempertahankan kapal tetap berada di halaman depan rumahnya. Padahal kapalnya gede sekali. Ada dua lagi!
“Ini bukti tsunami. Biar anak cucu kita tau apa itu tsunami..” ujar si Ibu.




About Ferhat Muchtar

FERHAT MUCHTAR
Author/Tourism Writer. Dreamers. Ex Banker. Teller Sampai Teler.
Suka makan kuaci. Tukang koleksi buku.
email: ferhattferhat@gmail.com
Tulisan yang mungkin kamu suka × +

1 komentar:

  1. rumah yang dipugar itu punya mantan Kapolres Aceh Tamiang Pak Syafriel Anthoni

    ReplyDelete