#e39608 Ibu Menor Pengabar WH - Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

Ibu Menor Pengabar WH

Hari ini menjadi tak biasa. Lengkap sejak siang hingga malam hari.
Seperti biasa, menjelang Ramadhan hampir semua kota di Indonesia berbenah sana sini. Paling kerasa tempat hiburan malam, tempat mesum, warung ini itu. Razia meradang. Tempat mesum disortir. Pelakunya kocar-kacir.

Seperti juga hari ini.
Siang tadi, seorang teman BBM. Ngajak jumpa. Ngobrol ini itu menumpah kesal di salah satu tempat nongkrong kaki lima di seputaran Peunayong. Letaknya cuma selemparan batu dari sebuah hotel ternama. Dalam rintik aku kesana. Deretan toko tampak sibuk. Orang-orang lalu lalang. Sebelum masuk, aku parkirkan motor dengan baik didepan toko dituju.

Tapi, ehhh...itu kok grasak grusuk ya. Sorotku diujung jalan.
Rupanya diujung sana, segerombolan tubuh tegap turun dari mobil pick up. Baju mereka seragam, antara keabu-abuan dan kehijau-hijauan. Satpol PP!!
Lantas mobil yang lain juga mengikuti dari belakang. Seragam mereka beda. Kali ini agak sedikit gelap. Serius aku pelototin seksama. Wah, ada WH!
WH itu kepanjangan Wilayatul Hisbah. Polisi Syariat-nya Aceh. Mereka konsen sama pelaku pelanggar syariat.

Otakku langsung muter-muter kayak gasing. Oooo...ada razia!
Gratak gretukk langkah rame mereka terdengar berisik. Jalanan sempit itu pun langsung heboh. Bayangin aja, sederetan toko yang padat tapi semua penghuninya bukan lagi melongok, tapi udah berhamburan. Semuanya pada keluar. Aku urung masuk ke warung ke tempat yang udah dijanjiin tadi.

Pasukan penyisir itu langsung menuju ke sebuah toko di pertengahan deretan. Aku langsung nebak. Pasti ke salon!! Sewaktu masih kerja di sebuah kantor, dulunya aku sering motong jalan lewat sini ketika pulang kantor sore harinya. Dan salon jadi-jadian itu kerasa banget mesumnya. Bahkan seingatku dulu, sebuah investigasi TV swasta juga pernah nyinggung ni salon.
Jadi ibaratnya, prestasi kemesumannya udah terkenal seantero negeri. Ibarat siswa, mungkin dia udah capek juara lomba olimpiade melulu. Juara fisika, matematika, biologi, kimia, sejarah sampe mencret.

Beberapa warga juga udah makin berisik.
"kenapa nggak ditarik izinnya!!"
"ho'oh" jawab disebelah, "gara-gara dia, usaha kita keganggu..." lanjutnya.
"bukannya ditutup!! keseringan!!" lanjut yang lain.
Aku menguping seksama. Kupingku membesar selebar daun talas direndam minyak tanah.

Rupanya, kemesuman si salon udah jadi rahasia umum tingkat lorong. Kayaknya semua penghuni lorong itu udah tau, bahkan nyaris memaklumi. Sampe-sampe tukang parkir pun udah pada tau dan seru diajak gosip.
"Sering kali ada yang bikin mesum. Hari itu siang-siang ditangkap pasangan yang baru m**n" kata si Bapak antusias. 
Aku pun makin antusias dengarnya. Entahlah udah segede apa telingaku.

Kemudian rombongan satpol PP-WH menempel sesuatu di atas pintu masuk salon mesum. Aku niatnya mau ngobrol sama teman, akhirnya malah manggil teman untuk sama-sama pelototin penggeledahan di toko sebelah. Berdua kami semakin khusyuk perhatiin. Penasaran, kira-kira ada yang digelandang dari salon itu kagak ya?
Tunggu capek tunggu, rupanya kagak ada. Salon cuma ditempel plang besi, DISEGEL tulisnya segede gaban. Ketika pulang aku sempat celingukan, eh, salon masih kayak biasa. Kagak ada tuh, yang disita peralatannya.

Hadeuhh!!

Malam pun larut. 
Seorang teman ngajak ngumpul lagi ba'da maghrib. Bahas untuk aksi solidaritas anak-anak korban gempa Aceh Tengah-Bener Meriah.
Rame-rame kami ngumpul di sebuah cafe di area Simpang Lima. Rupanya seru, jumpa dengan teman-teman lintas komunitas yang punya visi sama. Bahas ini itu. Siapin ini itu untuk ngumpulin sebanyak mungkin bantuan untuk bocah-bocah disana.
Disebelahku ada Dara, salah satu anggota pertemuan. Ngalor ngidul sambil makan trus sambil rapat juga. Lagi khusyuk-khusyuknya, tiba-tiba.....

"Hei!! kamu kesini!! Cepat!!"
Seorang mbak-mbak menjurus jadi Ibu-ibu berdiri dibelakangku. Dandanannya ibarat sinden yang nggak kebagian panggung untuk mentas. Kurasa, bedak satu lemari dipakeinnya semua. Belepotan kayak ketumpahan tepung sekarung. Mana gincunya merah merona nyaingin getah manggis lagi. 
Trus, alisnya? Ya ampun!! Melengkung kayak busur matematika. 
Mungkin ini namanya alis bulat sabit kali yak?!

Kami yang awalnya lagi serius bahas didalam rapat malah melongo. Dara lebih-lebih, soalnya badan dia yang di towel-towel si Ibu.
"Kamu!! Kesini sebentar!!"
Dara ogah-ogahan. Kami yang lihatinnya malah heran.

"Eh, kamu kemarin bentar!!! Kok takut? ngerasa kayak mau diperk*sa aja! Iya, kan?" tanyanya kayak mau nyari jawaban kearahku.
Aku mengerling.
Meneketehe!

Kami makin heran. Lebih tepat prihatin, ngapain lagi tu Ibu datang tiba-tiba trus berlagaknya sok kompak. Awalnya aku menduga, kali aja motornya si Dara nahan mobilnya si Ibu yang mau pulang. Tapi rupanya bukan itu. Si Ibu menor ngajak Dara mojok disudut, ngobrol serius. Kami terpana. Semua mata tertuju ke si Ibu.

Balik badan, giliran Daraa garuk-garuk kepala sambil meringis heran.
Jiiiiiahhhhhh... 

"Aneh si adek ini, dibilangin nggak mau dengar!" Si Ibu makin kalap. Bibirnya menye'-menye' ditambah ekspresinya kayak sinetron Indonesia. Dia nunjuk-nunjuk Dara.
Giliran kami melongo massal. Rapat malah ketunda. Penasaran dengan si Ibu yang tiba-tiba muncul dari kegelapan itu.

"Disana itu lagi ada razia WH!! Bisa jadi mereka kemari. Kalian kan duduknya rame-rame cowok cewek. Misah! Misahin diri duluuuu jangan nanti ada apa-apa..."

Yaelllaaaahhhhh.... itu toh yang bikin dia grasak grusuk.
Kami malah ketawa. Hadeuh!
Kurasa WH juga nggak bodo'-bodo' amat bedain yang duduk mojok pacaran, sama yang lagi rapat dengan segini rame orang.

"Ini dibilangin malah nggak percaya!" hardiknya ke Dara.
Kami sebagian makin cekikikan. Oh Tuhan, apaan sih ni Ibu.
"Iyaaa..iyaaaa Ibuuuu. Makasih yaaaa." ngasal kami jawab sekenanya.


"Saya bilangin aja, mending kalian duduk terpisah aja dulu..."
Ya ampun, dia makin lanjut
Bete, makin keras kami nyahut rame-rame, "Iyaaaaaaa buuuuuu. Makasiiiiihhhh yyayayayayaaaaaaa...."

Karena kepanikannya nggak tersalur baik. Sebel dia nyosor pergi. Plenat plenot dengan jeans ketat. T-Shirt ketat ditutup rapat jaket kaos. Rambutnya dikucir keatas, jadi buntelan kecil mirip batu kali yang nemplok diatas kepala. Penampilannya membahana tordano, yang bikin orang-orang yang lihat kepikiran yang nggak-nggak.
Bayangin coba, udah penampilan gitu trus takut razia WH.
"Kali aja dia germ*!" celetuk yang lain.
Deg! 

Sempat kulihat, dia mampir ke meja-meja lain. Mungkin ngabarin hal serupa. Entahlah, kali aja si Ibu mantan menteri penerangan yang berkoar-koar nyaingin papan informasi. Atau kali aja dia pernah ketangkap razia, trus masih dalam tahap pemulihan trauma.

Bergegas dia jalan keluar. Kayaknya melarikan diri, dan kembali hilang ditengah kegelapan. Kata Dara, dia pulang mau ngambil jilbab.
Kulihat sekeliling, nggak ada pun yang kocar kacir ketakutan ditangkap WH. Mungkin pikiran mereka sama dengan kami, nggak ada yang salah nongkrong rame-rame ditengah keramean kayak gini. Di meja sebelah, segerombolan anak-anak ABG masa' bodo. Nggak peduliin dengan informasi antah berantah si Ibu.

Selepas dia pergi, malah kami cekikikan.
Hadushh, emak siapa lagi itu!
Dara yang awalnya bingung, malah terbahak.
"Lha, memangnya kenapa kalo datang WH? Kita nggak buat salah kok..." Dara berasumsi.
Sebagian mengangguk, "Kayaknya kita lebih takut ke si Ibu ketimbang ke WH..."

Aku setuju kuadrat. Soalnya si Ibu muncul tiba-tiba trus hilang tiba-tiba ditengah kegelapan.
Syukur ni malam nggak lagi bulan purnama. Kalo iya, mungkin bakal kedengaran lolongan mencekam diujung jalan sana kayak di film-film...

Hadirnya si Ibu dengan penampilan dan kehebohannya, bikin aku keingat kejadian tadi siang.
Wallahu'alam



















About Ferhat Muchtar

FERHAT MUCHTAR
Author/Tourism Writer. Dreamers. Ex Banker. Teller Sampai Teler.
Suka makan kuaci. Tukang koleksi buku.
email: ferhattferhat@gmail.com
Tulisan yang mungkin kamu suka × +

8 komentar:

  1. kwok kwok kwok. Saya saksi bisu... @-)

    ReplyDelete
  2. =)) =)) =)) =)) =)) =)) =))
    Teroris teriak teroris..
    Kasian si Dara.. ;(

    ReplyDelete
  3. saya tertarik sama ceritanya, alurnya sangat menarik untuk terus dibaca sampai titik terakhir.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih topik udh mampir..
      salam kenal..

      Delete
  4. kalo WH mah yang diincer yang berduaan yak, bukan yang rame2.

    jadi pengen liat razia :D

    ReplyDelete