#e39608 Kerennya Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Serial Bali eps 5) - Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

Kerennya Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Serial Bali eps 5)

Bangunannya menjulang tinggi di tengah lapangan. Begitu eksotik. Tersusun dari batu alam berwarna pekat. Rupanya disini juga pernah tempat syuting OVJ roadshow daerah.


cerita sebelumnya hebohnya liburan rame-rame

Mobil melaju pelan membelah kota Denpasar. Karena pagi tadi terlalu heboh dengan hal-hal nggak penting, jadi kami berangkat kesiangan. Jalanan mulai padat.

monumen tampak dari luar
Tujuan pertama ke Gianyar-Ubud. Ini lokasi eksotis di Bali. Junaida dengan Nuril beberapa hari lalu udah wanti-wanti untuk sempatin datang kesana. Suasananya nyeni banget! Serasa kayak di FTV-FTV. Hahhaha... teman-teman dari FLP Bali juga berujar sama. Katanya sempatkan singgah ke lokasinya Julia Robert  syuting film Eat, Pray, Love. (Haduh, lupa namanya apaan)

Jalan raya kota Denpasar nggak terlalu lebar menurutku. Tapi bersih, rindang. Pepohonan tumbuh subur sepanjang pagar perkantoran. Kantornya pun unik-unik bentuknya. Menyerupai candi. Jangankan bangunan kantornya, pagarnya juga bikin menganga. Ukirannya meliuk kesana kemari. Kata Pak Andi untuk bikin pagar aja butuh puluhan juta. Ya iyalah, batu alamnya dipahat sempurna. Belum lagi gerbangnya menjulang tinggi dengan polesan bata merah. Aku dengan Fadli berkali-kali berdecak.

Hingga di persimpangan jalan, mataku berserobok. Eh apaan tu! Sebuah bangunan menyerupai tugu menjulang tinggi di tengah lapangan luas. Makin kece, soalnya bangunannya tersusun dari batu-batu alam yang berwarna pekat. Norak kami semobil penasaran. Nunjuk-nunjuk ke luar. Pak Andi yang awalnya udah sabar akhirnya mengalah. Mobil rencananya mau menuju ke Gianyar-Ubud akhirnya belok arah. Ke Monumen Perjuangan Rakyat Bali!

Tadaaaa...

bernorak-norak gembira
Monumen ini ternyata semacam museum. Halamannya luas. Dari Pak Andi juga aku tau ternyata tempat ini pernah jadi lokasi syuting OVJ roadshow ke daerah-daerah. Bentuknya dahsyat! Aku sampe menganga lihatnya. Sempat mikir, ini dibuatnya gimana ya?
Tapi walaupun indah nggak terkira-kira, yah namanya juga museum tetap aja sepi. Sewaktu kami tiba petugas loket leyeh-leyeh di depan gardu.

Sebelum masuk ke gedung utama kami sempatkan berfoto-foto narsis ditangga yang menjulang tinggi. Ada sekitar 17 anak tangga Kori Agung. Di sekelilingnya terdapat beberapa patung dewa yang dipayungi dan dilingkari kain khas Bali.


Ketika masuk aku baru sadar, ternyata bangunan ini berbentuk bundar. Melingkar. Di tengahnya ada kolam ikan yang diapit 8 Tiang Agung. Di lantai dasar (Nistaning Utama Mandala) terdapat ruang pameran, perpustakaan, ruang souvenir. Cuma aku nggak singgah. Tujuanku langsung menuju ke atas melalui tangga di tengah kolam. Kami berpencar kemana-mana. Pak Andi tunggu di bawah.

Di lantai dua (Madianing Utama Mandala) makin semarak. Ada 33 diorama yang dibingkai kaca. Diorama ini mengisahkan perjuangan rakyat Bali dari masa ke masa. Dari masa pra sejarah, masa Bali kuno, masa pergolakan fisik, hingga perjuangan rakyat Bali. Semua diterangkan dalam tiga bahasa; Bahasa Indonesia, Inggris, dan Sanskerta.

diorama dalam kaca
Di lantai ini juga, ada 69 anak tangga untuk mencapai lantai atas (Utamaning Utama Mandala) yang terdapat ruang peninjauan. Banyaknya anak tangga ini melambangkan Pendakian Suci menuju puncak Gunung Mandhara Giri. Disisi tangga berdiri banner “pengunjung yang sedang menstruasi dilarang naik ke atas”. Nah aku nggak ngerti kenapa. Mau tanya ke petugas orangnya nggak ada.

Arsitektur monumen ini keren! Beda dengan kebanyakan museum yang bawaannya jadi ngantuk kalo kunjungi. Desain luarnya keren sekali. Gazebo tersebar-sebar dimana-mana. Kalo jadi tempat foto wedding pasti keren! Hahahaha... berhubung aku bawa kamera digital saku, jadi hasilnya biasa aja. Coba bawa DSLR pasti sampe maghrib nggak pulang-pulang.

sudut lain monumen/museum

Gazebo di sudut museum/monumen

pintu gapura
Bangunan ini digagas oleh Ida Bagus Mantra, Gubernur Bali. Pengerjaannya dimulai sejak 1988 dan selesai 2001 silam. Terbilang lumayan masih baru. Bangunannya tersusun dari batu gunung. Sebagian diplester pake semen kasar tapi semennya nggak dicat. Dibiarin aja natural.

Baru tanggal 14 Juni 2003, Presiden Megawati Soekarnoputri resmiin bangunan yang berlokasi di selatan lapangan Puputan Margarana.

Sangking kemaroknya berputar-putar kesana kemari. Kami butuh beberapa puluh menit untuk ngumpul lagi di gapura utama. Pak Andi mengingatkan beberapa kali, jangan kelamaan katanya. Takut nggak keburu tempat lain.

Berhasil ngumpul, perjalanan pun dilanjutkan ke Gianyar-Ubud. Hari menjelang siang. Perut berkoar-koar kelaparan. Sepanjang perjalanan kamera siaga kayak tim sar, potret sana-sini. Bener kata orang, Bali surga dunia!


Bersambung # Bali 6


JADWAL BUKA MONUMEN PERJUANGAN RAKYAT BALI
  • Monumen ini dibuka setiap hari kecuali hari besar atau libur resmi.
  • Jam pelayanannya berbeda, senin-jumat jam 08:30 hingga 17:00 WIT. Sedangkan Sabtu-Minggu 09:30-17:00 WIT.
  • Harga tiket sekitar Rp 2.000 sampe Rp 5.000/orang (wisatawan lokal). Dan wisatawan asing Rp 5.000 sampe Rp 10.000/orang. (dewasa dan anak-anak harga tiketnya beda)

About Ferhat Muchtar

FERHAT MUCHTAR
Author/Tourism Writer. Dreamers. Ex Banker. Teller Sampai Teler.
Suka makan kuaci. Tukang koleksi buku.
email: ferhattferhat@gmail.com
Tulisan yang mungkin kamu suka × +

0 komentar:

Post a Comment