#e39608 Raja yang jatuh ini namanya Raja Reubah - Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

Raja yang jatuh ini namanya Raja Reubah

Konon sebab ia jatuh, maka dinamakan Raja Reubah

Suatu siang aku sempat melintas di kawasan Residen Danubroto, Lamlagang. Jalan ini menjadi salah satu lintasan “tikus” untuk menghindari keramaian di jalan Teuku Umar, Banda Aceh. Jika melewati kawasan ini, kerap teringat makam kuno di sebuah gundukan tanah. Dulu area itu tampak jelas jika aku melintas. Tapi tidak saat ini.

Di sana pertokoan dan kios-kios padat. Berdiri amburadul sembarangan. Makin kacau dengan riuh anak-anak sekolah berhamburan pulang. Motor jemputan juga terparkir sembarangan. Pusing!
Aku sempatkan mampir di warung fotocopy. Bertanya sama Ibu penjaga warung tentang keberadaan makam.
“Oh, makam Raja Reubah?? Itu di bawah pohon. Masuk aja lewat kios-kios kecil itu,” sahut si Ibu sambil nunjuk ke pohon besar di seberang jalan. Bergegas aku langsung kesana.

Dari sela-sela kios yang berjejer, aku masuk kesana. Mendaki sedikit gundukan tanah kering. Makam Raja Reubah ini letaknya tepat di bawah pohon besar. Areanya tak luas. Dibatasi pagar besi yang memisahkan dengan rumah warga. Di sekitarnya terdapat beberapa kandang ternak peliharaan warga. Kotorannya tersebar hingga bikin semaput.

komplek makam dari jauh


Di dalam komplek terdapat 15 makam dengan ukuran dan jenis nisan berbeda. Seperti bulat persegi atau nisan pipih bersayap subang. Sebuah prasasti dari tembaga menjelaskan singkat sejarah Raja Reubah. Ia adalah perantau dari Malaysia yang bersikeras ingin bertemu dengan Sultan Iskandar Muda. Akhirnya beliau dinikahkan dengan saudara sepupu Sultan dan dipercayai menguasai sebagian wilayah Aceh.

Aku beruntung bertemu dengan Cut Kasmawati (56) yang ternyata pemilik tanah ini. Rumahnya hanya bersebelahan dengan komplek makam. Sejak awal 1980-an ia telah mendiami desa Lamlagang. Tanah makam dan lahan sekitarnya mencapai beberapa ratus meter merupakan warisan dari keluarganya. Ibu Cut juga termasuk keturunan dari Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah.

“Menurut cerita orang-orang dulu, Raja Reubah seorang perantau dari Malaysia. Sepulang dari Mata Ie ia jatuh dan meninggal di sekitar daerah sini. Trus diambil sama gajah, lalu digaruk ditutupi dengan tanah,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, akibat jatuh dan meninggal maka banyak masyarakat saat itu menyebutnya Raja Reubah, yang dalam bahasa Aceh reubah berarti jatuh.
“itu cerita orang zaman dulu,” lanjutnya.
Ibu Cut juga mendapat informasi jika nama Raja Reubah sebenarnya Abdullah. Ia kerap juga disebut Raja Raden. Tak ada penjelasan lebih detail bagaimana cara ia memimpin atau keberhasilan apa yang dia peroleh di Aceh.

komplek makam


komplek makam


Akupun mencoba mencari beberapa referensi lainnya.  Di Mbah Google pun sedikit sekali yang menulisnya. Berdasarkan http://atjehpusaka.blogspot.com nama asli Raja Reubah adalah Sulthan Abdullah Ma’ayat Syah, Raja muda dari Johor.

Keadaan makam saat ini sedikit terawat, walaupun beberapa batu nisan terkikis dan mulai rubuh tenggelam akibat tanah pasir. Banyaknya makam disini menyulitkan pengunjung untuk mengetahui lebih dekat nisan Raja Reubah. Terlebih tidak ada keterangan nama yang lebih rinci. “Batu nisannya kan ukiran Arab Melayu, jadi Ibu nggak tahu yang mana makam Raja Reubahnya,”
Si Ibu juga menambahkan, makam ini dipugar pemerintah sejak beberapa tahun lalu. “Tanahnya masih milik Ibu, jadi sehari-hari Ibu yang membersihkan makam ini,”

Walaupun sedikit terasing dan tertutupi dengan warung-warung di depannya, Ibu Cut mengaku kerap menerima kunjungan wisatawan yang ingin melihat makam lebih dekat. Biasanya wisatawan asal Malaysia yang kerap bertandang.
 “Ibu berharap mudah-mudahan dibangun sebuah balee disini. Jadi wisatawan yang datang bisa berteduh sambil berdoa,”
Harapan yang sama juga ia lontarkan agar komplek makam ini dipayungi sebuah tenda besar serupa gazebo agar batu nisan makam tidak rusak terkena terik dan hujan. Terlebih letaknya di gundukan tanah landai yang rapuh.

“coba lihat, tanahnya makin lama makin menurun. Jadi batu nisannya udah seperti tergantung,” ujarnya menunjuk satu batu nisan yang tanah bawahnya terkikis hujan.


Dan makam Raja Reubah ini seakan melengkapi keberadaan makam-makam kuno di Banda Aceh yang tersebar dimana-mana. Tapi miris, sebagian malah tak dirawat bahkan terlupakan sama sekali.

About Ferhat Muchtar

FERHAT MUCHTAR
Author/Tourism Writer. Dreamers. Ex Banker. Teller Sampai Teler.
Suka makan kuaci. Tukang koleksi buku.
email: ferhattferhat@gmail.com
Tulisan yang mungkin kamu suka × +

5 komentar:

  1. Semoga dengan ada tulisan ini menambah khasanan tentang penelusuran Raja Reubah di Kutaraja

    ReplyDelete
  2. Baru dengar kalo ada yang namanya Raja Reubah :D

    ReplyDelete
  3. itu bkan gajah yg tanam nya bodoh ,, yg tanam nya semut .

    ReplyDelete