#e39608 Terasering di Bali Bikin Tersihir (Serial Bali eps 9) - Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

Terasering di Bali Bikin Tersihir (Serial Bali eps 9)


cerita sebelumnya Bedegul dengan kabut mengebul 

Sebelum ke Tanah Lot, Bali, aku bersama rombongan sempat mampir ke desa Bangli. Letaknya tidak terlalu jauh dari Bedegul. Rasanya tidak terlalu asing dengar nama desa Bangli. Dulu pernah beberapa kali ini terdengar di berita Seputar Indonesia. Jadi ketika melintasi perkampungannya seakan terbawa ke waktu silam.

Desa Bangli ini benar-benar kelihatan desanya. Ya iyalah... Jalannya kecil, kalau ada mobil dari arah berlawanan siap-siap mepet. Anjing juga berkeliaran dimana-mana. Pura-pura tetap ada di sudut-sudut rumah. Terkadang bangunannya lebih mewah ketimbang rumah induk. Trus di desa ini juga kayaknya salah satu pemasok bunga untuk sesajen peribadatan.

Kalau di Banda keseringan lihat kebun cabe sama tomat, tidak tidak di desa ini. Di beberapa tanah lapang penuh dengan kebun bunga. Romantis! Rara yang duduk di kursi depan langsung melongo. Kepingin turun trus foto-foto di dalam sana. Halah!! Niatan itu berhasil kami bumihanguskan dengan ancam mengancam.

Bunga yang tumbuh juga biasa aja. Bukan bunga level atas. Kebanyakan bunga kuning yang sering ada di pojok pagar. Aku biasa nyebutnya bunga taik ayam. Rada ngeri namanya. Nggak tau deh nama latinnya apa atau nama wajarnya siapa. Bunganya kuning merona. Kecil-kecil. Trus kalau layu serbuknya sering diplintir-plintir jadi bibit baru. Biasanya sering ada di sudut-sudut pagar, atau di pojok tempat buang sampah. Itu kalau di tempat tinggalku. Tapi disini letaknya lebih elegan. Khasiatnya pun melebihi aroma taik ayam. Daunnya sering dipakai untuk obat anti kembung. Caranya daun diputar-putar dibasahin air. Trus dicampur kapur. Sampai daunnya hancur langsung deh diolesin di perut yang kembung. Ini sering aku lakuin zaman SD dulu. Waktu perut kembung dan belum kenal dengan namanya Polysilane atau Milanta. Kenapa tiba-tiba bahas bunga @_@

Lanjut ke topik awal.
Perjalanan ke desa Bangli ini sebenarnya mau lihat terasering. Itu sawah yang bentuknya berundak-undak kayak tangga. Dari jauh hari Fadli memang incar tempat ini. Bali termasuk lokasi terasering paling banyak di Indonesia. Bagiku terasering sebenarnya bukan tempat yang kepingin diincar buanget untuk dilihat. Soalnya kalau pulang ke kampung di Piyeung (Montasik masuk dalam) yang ginian juga ada. Cuma undakannya tidak setinggi di Bali cuma beberapa tingkatan aja. Tapi yah, letaknya mojok masuk ke dalam sana mana ada tertarik dijadiin tempat wisata.

Setelah menembus perjalanan yang hampir berkabut. Akhirnya Pak Andi parkir mobil di depan sebuah cafe yang sepinya minta ampun. Di sudut cafe ada air ledeng yang tumpah ruah dari perbukitan. Dan di depannya terhamparlaaahhhh... jreengg..jreenggg...
TERASERING!

penampakan terasering



Beuh, rupanya tingkatannya bukan lagi belasan tapi puluhan! Tersusun berundak-undak dari atas sampai ke bawah. Kami melongo nyaris takjub! Rara yang paling heboh. Turun mobil langsung nyosor ke bawah. Berpekik hampir nggak sadar diri #eh
“Subhanallahh... ya Allah bagus sekali,” dia nyosor ke bawah. Turun makin kesana. Makin ke bawah berpekik lagi, “Ya Allahh... bagusnya. Subhanallah...”
Dan seterusnya seperti itu.
Kami cekikikan di atas sana. Dia memilih view terbaik dari turunan undak-undakan itu. Kalau meleset dikit, blasshhh langsung deh jatuh ke sawah!

Terasering ini bangunan konservasi tanah dan air untuk memperpendek panjang lereng. Tujuannya untuk menahan erosi atau memperkecil aliran air biar dapat meresap ke dalam tanah. Nah, gitu deh artinya sewaktu aku cari di google. Ngerti? Capek baca juga nggak ngerti masuknya apaan. Yang penting ini sawah digunain untuk nanam padi buka nanam cabe.

Di Bali sebenarnya banyak lokasi terasering. Paling terkenal itu ada di Tegalalang dan Jatiluwih di kabupaten Tabanan. Terasering Jatiluwih bahkan sempat diajukan sebagai world heritage. Nggak tahu sekarang diterima apa belum.
Disini kami tidak lama. Berhubung hampir maghrib, perjalanan dilanjutkan ke Tanah Lot. Rencananya mau lihat sunset. Konon di sana salah satu view terbaik melihat sunset.

Mobil pun melaju kembali. Cepatnya minta ampun. Berhubung waktu sunset hampir tiba. Serasa kayak film-film Hollywood. Sambil nyetir sambil lihat matahari di luar. Oh Tidak! Waktunya semakin sempit. Matahari mulai merangkak turun. Cahayanya udah kuning merona campur orange. Benar-benar mau tenggelam.

Konsentrasi kamipun sempat pecah. Ketika di jalan arah Tanah Lot banyak sekali polisi dan baliho bertebaran disana-sini. Penasaran, kami melongok keluar. Oalllaaa... rupanya baliho Miss World!! Berjarak beberapa meter ke depan ada resort mewah. Disana baliho dan polisi makin rame. Kami heboh seketika! Oh tidaaaaaakkkk... mungkinkah Miss World nginap di resort itu!! Ingin rasanya turun untuk foto bareng dengan Miss Uganda atau Miss  Zimbabwe. Tapi berhubung mataharinya makin turun. Mobilpun makin kesetanan...
(bersambung)



About Ferhat Muchtar

FERHAT MUCHTAR
Author/Tourism Writer. Dreamers. Ex Banker. Teller Sampai Teler.
Suka makan kuaci. Tukang koleksi buku.
email: ferhattferhat@gmail.com
Tulisan yang mungkin kamu suka × +

2 komentar: