#e39608 Tsunami Aceh Membawa Kapal Besar Ini Hingga ke Dapur Rumah - Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

Tsunami Aceh Membawa Kapal Besar Ini Hingga ke Dapur Rumah

Dua kapal besar terdampar di Punge Blang Cut. Berhadapan dengan rumah warga. Sempat ingin dihancurkan, tapi warga terus mempertahankan.
Tsunami AcehSelepas berkeliling di Ulee Lheue melihat di kuburan massal tsunami Aceh dan menapaki gedung escape building TDMRC, akhirnya aku dengan beberapa teman berniat mengunjungi PLTD Apung. Diperingatan 9 tahun tsunami Aceh ini, PLTD Apung merupakan titik penting untuk dikunjungi. Ternyata niatan ini seakan terpartri sama di beberapa benak warga. Terbukti ketika kami tiba, ratusan warga memadati area PLTD Apung yang tertata rapi.

Jalan di kampung ini tiba-tiba padat. Ratusan sepeda motor dan mobil terparkir rapi di ruas jalan. PLTD Apung ini adalah kapal tongkang yang dulunya memasok listrik untuk kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar. Ketika tsunami ia terhempas ke daratan sejauh 5 KM dari tempat muasalnya di Ulee Lheue. Ia terdampar di tengah pemukiman penduduk. Dan melintang di tengah jalan kampung Punge Blang Cut. Beratnya puluhan ribu ton dengan panjang belasan meter.

Ternyata kedatanganku dengan teman-teman berbenturan dengan dzikir dan doa bersama. Lantunan yasiin dan tausyiah terdengar sayup-sayup di kejauhan. Ratusan warga berpakaian putih memadati area PLTD Apung yang tertata rapi. Kami berhenti sejenak di depan rumah warga. Seorang tukang parkir datang mendekat.
“Jam dua siang nanti dibuka lagi bang, sekarang lagi berdoa,” ujarnya. Ternyata untuk sementara kawasan ini tertutup bagi wisatwan.

Sempat berhenti lama disana. Celingak celinguk memikirkan lokasi alternatif lainnya. Junaida, Isni, Aslan, dan Adit hanya diam. Tidak ada referensi tempat kunjungan lain. Ingin pulang terlalu pagi, masih jam 10:00 WIB

“Kita kesana aja! Pasti kalian belum pernah lihat yang ini!” ujarku tiba-tiba.
“Kemana Bang?” tanya Isni mengernyit.
Aku tak peduli, segera kubawa sepeda motor ke arah jalan kampung yang sempit. Melewati lorong-lorong panjang yang terbuat dari beton. Di beberapa bagian rusak parah membentuk kubangan.

Di ujung jalan, di depan rumah warga dua kapal besar terdampar di tanah kosong. Satu diantaranya terdampar sedikit ke pojok mendekati dapur warga. Satunya lagi melintang di tengah jalan kampung yang sempit. Aslan, Isni, Junaida dan Adit terperangah melihatnya. Mereka tidak menyangka ada kapal besar lainnya yang masih terdampar di daratan. Selama ini mereka hanya tahu kapal PLTD Apung atau kapal di rumah Lampulo yang terbawa tsunami Aceh.

Keheranan mereka ini sedikit beralasan. Soalnya kedua kapal ini letaknya sedikit jauh dan tertutup rumah warga. Tidak ada tanda sebagai penunjuk. Beda jika dibandingkan dengan PLTD Apung yang sudah tertata rapi, bahkan dijadikan objek wisata.

Salah satu dari dua kapal tsunami Aceh

Aku sendiri baru tahu kedua kapal ini september silam. Ketika salah satu guide PLTD Apung mengajakku kesana saat liputan. Walaupun beritanya sering kubaca di media, tapi lokasi sebenarnya aku tak tahu jika tidak ditunjuk guide PLT Apung itu.

Kedua unit kapal KPLP ini adalah milik Adpel Malahayati Aceh. Mungkin dulunya berfungsi sebagai kapal patroli. Tsunami Aceh silam membuat kapal ini terdampar di Dusun Tuan Di kandang, Punge Blang Cut, Banda Aceh. Sempat beberapa kali hendak dilelang untuk dihancurkan. Tapi warga sekitar keukeuh pasang badan mempertahankannya.
“Biar jadi bukti untuk anak-anak dua puluh tahun ke depan,” terngiang kembali ucapan seorang Ibu ketika pertama kali aku kesini.



Begitu sampai ada beberapa wisatawan yang sibuk berfoto dan menaiki kapal hingga ke atasnya. Penasaran kami pun mencoba. Melihat lebih dekat ruang-ruang di dalamnya. Posisi kapalnya yang miring 80 derajat bikin kami kesusahan ketika berjalan. Lebih repot lagi ketika kami naik ke kapal satunya lagi yang lebih besar. Di dek kapalnya yang licin dari fiber dijadikan perosotan belasan bocah-bocah di sana. Ketika naik, beberapa bocah mengingatkan kami untuk melepaskan alas kaki.



bersebelahan dengan rumah warga
Aku dan Adit mengikuti saran mereka. Aslan tetap pede dengan sepatunya, akhirnya ia kesusahan saat menanjak. Hampir nyungsup beberapa kali. Isni dan Junaida yang mengenakan kaos kaki tertatih-tatih. Akibatnya mereka lebih memilih duduk daripada menjelajah kesana kemari. Gara-gara kemiringan kapal ini juga bikin kami membatalkan untuk menjelajah ruangan di dalamnya.

Kapal KPLP ini salah satu dari sekian banyak bukti kekuatan tsunami  Aceh. Tapi sayang kondisinya sedikit menyedihkan. Padahal menurut penuturan warga, banyak wisatawan (terutama wisatawan Jepang) berkunjung kemari. Andai ditata rapi dengan taman bermain, tentu menjadikan tempat lebih menarik untuk dikunjungi. ***


About Ferhat Muchtar

FERHAT MUCHTAR
Author/Tourism Writer. Dreamers. Ex Banker. Teller Sampai Teler.
Suka makan kuaci. Tukang koleksi buku.
email: ferhattferhat@gmail.com
Tulisan yang mungkin kamu suka × +

11 komentar:

  1. itu dijaga sendiri sama warga ya bang? ga ada campur tangan pemerintah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Liza. dijagain sma warga. sebagian kapalnya udah keropos. Yang kapal dari besi memang udah karatan. kasihan... hiks ;-(

      Delete
  2. Wah..
    Pasti seru nih, liburan disini..
    Dicatat dulu deh, siapa tahu ntar bisa kesini.. :)

    ReplyDelete
  3. assalamualaikum ferhat. Saya blm pernah masuk ke dalam kapal apung, lht dr luar ada. O iya, saya ada baca cerpen ferhat di serambi indonesia hari ini. Terharu bacanya, bagi pasangan yg sdh menikah ada bekas istri atau bekas suami, tp bagi seorang anak tdk ada bekas ayah atau bekas ibu. * indah *

    ReplyDelete
  4. Wooo.. ada kapal lain juga ternyata di Punge. Baru tahu aku.

    ReplyDelete
  5. Luar biasa artikelnya ferhat,. Insya Allah lahan tersebut sudah dilakukan proses pembebasan oleh Pemko Banda Aceh. Kedepan Insya Allah aset tsunami itu akan dipugar dan dijadikan situs tsunami. Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah..
      ini berita menggembirakan. mudah2an bisa jadi andalan wisata baru Banda Aceh bang..

      Delete