#e39608 #3 Tenyata Bayi Meruwa Juga Saktimandraguna! - Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

#3 Tenyata Bayi Meruwa Juga Saktimandraguna!



MASIH ingat dengan ceritakutentang meruwa yang sempat kutulis beberapa bulan silam? Yap! Meruwa atau biawak kembali bertingkah di halaman belakang.
Pikirku setelah telurnya dihancurkan, binatang berbadan bahenol ini bakal trauma dan nggak akan kembali lagi. Tapi rupanya salah! Dia tetap datang, datang, dan datang...

Itu bermula dari suatu pagi. Kakakku, Mera, numpang nginap di rumah. Suaminya ikut khuruj keliling mesjid. Nah, karena ketakutan nginap sendiri di rumahnya yang agak terpelosok,  Mera numpang nginap di rumah induk.
Menumpang kamar yang jendelanya berhadapan dengan halaman belakang. Dari seluruh anggota keluargaku, Mera termasuk yang hobi buka jendela lebar-lebar. Nggak nanggung-nanggung, semua jendela rumah dibukanya lebar-lebar. Begitu juga jendela kamar yang ia tumpangi dengan bayi kecilnya.

Pagi hari jendela udah dibuka hingga ke bawah. Cuma tirai tipis penghalang pandangan keluar. Aku lagi duduk di kamar ketika ia teriak tiba-tiba.
“Meruwaaaaaa!!!!”
Pekiknya saat itu. Aku di kamar langsung bete. Hadeuh, meruwa lagee...

Mera kocar kacir keluar kamar. Ia bercerita antusias kalau ada meruwa yang celingukkan dari jendela. Siap-siap ingin masuk ke dalam kamar.
“Ukurannya lebih kecil. Kayaknya baru lahir,” ceritanya.
“Kadal kali nggak?” tebakku. Mera menggeleng pelan. Ia keukeuh kalau itu beneran meruwa. Aku mengangguk pelan. Iya aja deh! Biar cepat kelar.

Hadirnya bayi meruwa itu sempat terlupakan beberapa hari ke depan. Aku pun nggak begitu mengikuti lagi kisah si meruwa yang jelalatan ini. Soalnya lagi hepi-hepinya dengan meja baru di dalam kamar. Rada telah sih, punya meja belajar di dalam kamar. Tapi berhubung karena setiap hari online dan selalu di depan laptop, terpaksa meja rice cooker di dapur ku ambil. Mejanya kulapisin dengan gabus tipis yang biasa dipake untuk mading sekolahan. Laptop, buku bacaan, pernak pernik entah hapa-hapa yang selama ini bikin jorok lantai kamar kususun rapi di atas meja.

Meja belajarnya bersebelahan dengan jendela kamar. Sesekali kalau hujan deras jendelanya kubuka hingga kebawah menyamai tinggi meja. Dari sana aku bisa melihat hujan lebih dekat.
Nah, kebetulan suatu siang agak panas, aku buka jendela hingga ke bawah. Niatnya biar sirkulasi udara lancar, nggak gerah.
Sreettt....sreettt...
Tiba-tiba dari luar terdengar suara asing. Hmm... kayaknya kucing lagi cakar-cakar kayu. Masa bodo’!
Srreeett....srreettt....
Eh, bunyi lagi. Aku mengintip keluar untuk memastiin. Nggak ada apa-apa. Sempat terlintas, kali aja cicak yang lagi terperangkap di ventilasi jendela. Grasak grusuk cari jalan keluar.

Karena siang trus ngantuknya minta ampun, aku malah melipir ke atas kasur. Belum juga tidur, tiba-tiba di balik tirai jendela sekelebat bayangan melongok. Celingak celinguk kiri kanan kayak mau cari kost-kostan.
MERUWA!!!

Langsung aku bangkit. Lari sambil berhush..hush... memukul apa yang ada di dalam kamar. Bahaya kalau tiba-tiba si meruwa berhasil masuk ke dalam kamar trus luntang lantung ke sana kemari. Bayi meruwa yang ukurannya dua kali tokek itu langsung lari. Aku melongok keluar, melihat kemana dia lari.
Lenyap! Si meruwa hilang jejaknya entah kemana.

Dua kali sudah bayi meruwa ingin silaturahmi ke rumah. Entah apa yang mau dicarinya. Mungkin ia jelmaan dari telur-telur yang berhasil kami hancurkan beberapa bulan sebelumnya. Sesekali aku juga masih mendengar laporan dari orang rumah, kalau malam hari masih terdengar seretan badan. Kayak ngesot. Sepertinya itu induk meruwa yang datang numpang melahirkan telur di sumur belakang rumah.
Seperti yang lalu-lalu cerita bayi meruwa ini hilang dari obrolan rumah. Hingga pagi-pagi sekali, kakakku Emma berteriak ketika membuka pintu gudang di samping rumah. Dia memang paling heboh untuk segala hal menakutkan dan tidak menakutkan di rumah. Ada kecoa terbang dia berteriak. Ada kucing kawin yang lagi mengerang ia juga teriak. Lihat minyak panas meletup-letup di penggorengan juga teriak. Cape deh!

“Ada meruwa di gudang belakang!” pekiknya. Sekonyong-konyong orang rumah ngumpul.
“Tadi buka pintu, trus ada meruwa lari di dalam gudang. Ukurannya kecil!” sambungnya lagi.

Akhirnya semua berdiskusi. Cerita bayi meruwa yang kepingin masuk ke rumah lewat jendela kamar kembalii terdengar. Masing-masing punya cerita versi berbeda tentang meruwa.
“ya udah dipukul aja!” usulku setelah kami berdiskusi sekian lama.

Rame-rame ngintip dari jendela kaca yang menghubung gudang di samping. Memastiin sekarang si meruwa di posisi mana. Ngintip-ngintip, oalaaaa.. si meruwa lagi ngedomprak di depan pintu!
“Bahaya, kalo buka pintu bisa lari ke dalam rumah,” ujar Emma.
Hmmm... stategi bergerilya diatur.

Ibu akhirnya pergi ke arah depan. Mutar ke belakang rumah. Niatnya adalah menghajar meruwa dari arah depan. Dan kami, anak-anaknya, menghajar meruwa dari arah belakang! Hahhahaa... udah kayak serial silat di tipi-tipi.

Dan ketika Ibu berhasil mendekati gudang belakang. Tiba-tiba... lha meruwanya hilang lagi!! Ibu langsung mencak-mencak.
“Ini kalau si meruwanya mati dalam gudang gimana? Mati dalam barang-barang itu gmana? Belum lagi bau, bangkainya nggak tau dimana!! Ini juga, siapa yang buka pintu gudang nggak tutup lagi!! Bla...bla..blaa...” Aku dengan Emma langsung diam.

Memang repot sih kalo si meruwa mati dalam gudang. Repot pindahin barang-barangnya yang menggunung. Bertumpuk-tumpuk dalam rak-rak kayu. Hadeuh! Nyusunnya aja udah bikin bengek.
Akhirnya aku mukul-mukul pake gagang sapu.
Tuukk...tukk...tukkk....
Pukul-pukul kardus, kaleng, keranjang, galon aqua, lemari, centag prenang. Intinya bikin kegaduhan biar si meruwa keluar dan nggak terperangkap di dalam sana.
Hasilnya??
Phuuiiifffhhh.... lagi-lagi si bayi meruwa hilang!!! Nggak tau juntrungannya dimana! Nyebelin campur emosi! Masak ini bocah meruwa berhasil kibulin kita serumah? Tempo hari hilang, lha hari ini hilang lagi!
“mungkin dia pake ilmu sapu jagat!” usilku.
“Itu kalau sampe mati di dalam gudang,  makin tambah repot! Tutup aja pintu besinya jangan sampai masuk yang lain,” usulnya sambil menarik pintu besi yang menutup gudang belakang.
“jadi meruwa di dalam sini gimana mau keluarnya?” tanyaku polos.
Kami semua saling berpandangan. Diam.
Arrgghhhttt...

###

Cerita bayi meruwa yang ingin masuk ke rumah bagai legenda di rumah kami.  Misterinya tidak terpecahkan hingga berhari-hari ke depan. Nggak ada yang tahu apa dia berhasil kabur atau masih bersembunyi di dalam gudang. Ataupun jangan-jangan udah mati kelindes kardus?
Nggak ada yang peduliin lagi. Mau mati, jadi bangkai, atau berhasil kabur terserah deh!

Yang penting di hari minggu ini suasana rumah lebih semarak. Hari menyuci nasional digalakkan. Berhubung mesin cuci lagi rusak, jadi penghuni rumah rebut-rebutan ember untuk rendam baju kotor. Masing-masing keluarin baju kotor dari keranjang di dalam kamar. Di tumpuk di depan kamar mandi. Emma udah dari semalam tumpukin baju. Siap-siap mau rendam. Hingga tiba-tiba...
“Aaarrgghhhttt.....” Emma berteriak nggak karuan. “Ada meruwa di dalam baju kotor!”

Grasak grusuk rumah lagi-lagi heboh. Konon meruwa yang ngedomprak di dalam baju kotor, meruwa yang selama ini diincar!
BAYI MERUWA!!!! Jrengg...jrengg...
Panjang umur ni meruwa. Baru aja diomongin udah nongol.
Kayaknya dia masuk ke dalam saat pintu rumah terbuka, trus sembunyi di dalam tumpukkan baju kotor. Ckckcck... sampai sekarang juga nggak tau ini meruwa maksudnya ngapain coba niat banget masuk ke dalam rumah.
“Ambil gagang sapu!”
Rencana mau ketokin kepalanya pake gagang sapu. Tapi, ah percuma! Gagang sapukan cuma seuprit. Kalo tiba-tiba melesat, malah makin repot. Dia bisa lari kesana kemari. Sembunyi di kolong lemari, dalam rumah, balik pintu, di bawah meja, masuk ke dapur. Aaargghhhttt....

“Pake parang aja!” usulku. Udah terbayang itu kepala meruwa bakal kupenggal jadi dua.
“Jangan! Pake ini aja lebih kuat!”
Emma pergi ke arah dapur. Ngambil sesuatu dan balik beberapa menit kemudian.
“Pake ini aja!” ujarnya santai sambil serahin gagang lesung yang biasa dipake untuk tumbuk kacang!!
Nguiikk!
Memang sih ukurannya lebih gede dan kuat. Ini gagang lesung biasanya dipake kalo ada isu pencuri di komplek rumah. Bentuknya yang panjang dan kuat, kayaknya paling mematikan untuk sekali timpuk. Tapi... masak udah dipake mukul biawak numbuk kacang lagi?
“nggak pa-pa nanti tingga dicuci aja,” sahut Emma seperti tahu keherananku.
Maka pelan-pelan aku menuju ke sudut ruangan. Menyibak kain kotor dan melihat meruwa yang lagi meringkuk. Hmmm... ternyata kamu yang selama ini bikin ricuh.

HIAAAAAT!!!!!!!!!!!!!!!
Dengan kekuatan bulan berlesung kayu, ciiiaaaattttt.....
Tuk gedebum tukk gedebam tuukkk tuukk!!!!!

Lesung kayu kuarahkan ke atas kain. Karena nggak tau posisi dia sebenarnya dikoordinat berapa, jadi segala penjuru ku hantam. Beberapa detik kemudian ketika kucek, meruwa yang selama ini kami incar sekeluarga kepret selayak kerupuk. Gepeng kena hantaman kayu.
Ckckkckcc... kasihan juga.
 Tapi anehnya dianya nggak berdarah. Entah pingsan atau mati beneran, yang pasti bayi meruwa yang kami incar beberapa minggu lalu cepat kubuang ke sawah belakang.

Phuiifhhh...
Tapi rupanya ini bukan akhir dari kisah meruwa. Setiap malam selalu ada suara sreett..srettt... yang konon gesekan badan meruwa dengan kerikil batu di halaman belakang.
“Lha, kok datang lagi?” tanyaku keheranan.
“Kayaknya dia bisa manjat tembok di samping,” dugaan Ibu suatu malam.
Hahh!!
Ampun deh!!

(Bersambung)


 #1Day1Post


About Ferhat Muchtar

FERHAT MUCHTAR
Author/Tourism Writer. Dreamers. Ex Banker. Teller Sampai Teler.
Suka makan kuaci. Tukang koleksi buku.
email: ferhattferhat@gmail.com
Tulisan yang mungkin kamu suka × +

3 komentar:

  1. ;(( Ane frotes, ntu meuruwa kan makhluk ciptaan tuhan, berhak juga untuk hidup ya kan (c)

    ReplyDelete
  2. ini judul post bener2 bahasa asli... wkwkwkkw.. kocak juga ceritanya bang...
    bereh2... salem meuturiii

    ReplyDelete
  3. Biawak itu salah satu penjaga ekosistem, Oom. Ga ada hak ente untuk membunuh binatang tanpa sebab. Biawak tidak akan mencelakai manusia kecuali bila merasa terancam atau disakiti.
    Biawak salah satu predator hewan hama (tikus) dan pemakan bangkai segala. bukan pemakan (dan tak akan pernah) manusia.
    Ingat, Oom! Alam punya caranya sendiri membalaskan dendamnya pada manusia yang semena-mena!

    ReplyDelete