#e39608 Ketika Sekret FLP Kelelep Banjir - Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

Ketika Sekret FLP Kelelep Banjir

Entahlah, tanpa kita tahu mungkin ini cara Tuhan membuat kita tetap sebaris berjalan, berdiri sebahu, atau kembali duduk merapat.
Tapi yakinlah. Karena terlalu banyak cinta disini, hingga kita masih mampu bertahan dikondisi tersulit sekalipun.


sekret FLP sebelum banjir

Tadi malam menjelang larut, handphoneku berdering. Suara di seberang terdengar panik. Menggebu-gebu bikin aku ketakutan.
“Bang, FLP kebanjiran bang! Kebanjiran Bang!!” Aslan memekik. Disusul lirihan takbir, istiqhfar, tanpa shalawat badar.
Aku tanya berulangkali untuk memastikan. Tapi suara Aslan malah timbul tenggelam, nggak kedengaran. Sesekali di ujung telepon terdengar suara kecipak kecipuk air. Di luar sana hujan makin lebat. Deras tidak henti-henti.

Ketika telepon ditutup aku sedikit melongo. Lebih tepatnya heran. Serius kebanjiran? Soalnya beberapa bulan lalu sempat juga hujan deras, tapi nggak sampai kebanjiran. Memang kasat mata, sekret FLP yang baru dihuni beberapa bulan ini sedikit lebih rendah dibanding tetangga sekitarnya. Tapi kok baru sekarang kebanjiran?! Hmm... lupakan! Mana suara Aslan timbul tenggelam lagi sewaktu ditelepon tadi. Sempat terlintas kali aja Aslan kerasukan Mimi, si penunggu sekret.

Masa bodo’, aku tetap online. Ketik ini itu, browsing sana sini. Tapi makin lama makin nggak enak batin. Lebih tepatnya gelisah nggak karuan. NGGAK MUNGKIN ini becanda!!
Lekas kuambil handphone. Bergegas menghubungi Aslan kembali. Niatan untuk menggali cerita lebih dalam lagi. Ketika dihubungi, haduh! Gagal! Pulsa kagak ada lagi. Cepat kuhubungi Aslan dengan telepon rumah. Ketika tersambung Aslan langsung menyambar.
“Ya Allah bang, air makin tinggi terus. Ini udah 20 cm. Printer basah, buku-buku, ya Allahh...”
Kecipak kecipuk bunyi air di belakangnya.
GAWAT! Aslan dalam bahaya!
“Aslan dengan siapa disana?”
“Sendiri Bang...”
Kecipak kecipuk, bunyi air lagi di belakang sana.
“Aslan tidur dimana?” tanyaku
“Nggak tau bang, ngeri juga tidur disini. Tadi juga ada ular,”

Di luar hujan makin hebat. Petir menyalak bikin suasana malam terang sesaat. Lekas kutelepon Fikri. Dari sekian banyak anggota FLP, kurasa dia mampu menerobos malam tanpa kenal waktu. Terlebih Fikri punya mobil, bisalah numpang nebeng ke FLP nggak perlu basah-basahan.
Ternyata dugaanku benar, Fikri langsung jawab iya saat kuajak ke sekret FLP. Selain untuk melihat kondisi sekret, sekalian jemput Aslan yang awalnya kepingin nginap di FLP. Aku sudah membayangkan hal-hal mengerikan. Termasuk kemungkinan Aslan yang terapung-apung tanpa bantuan di dalam sekret.
Kabar ini kusampaikan ke Nuril yang lagi piket jaga malam di Rumah Sakit. Sambil jaga dia terus pantau. Telepon Aslan, BBM tanya kondisi ini itu. Kepingin nyusul tapi nggak mungkin karena larut malam.

Di rumah aku menunggu jemputan Fikri. Rupanya kecepatan Fikri nggak sama dengan kecepatan cahaya. Ditelepon kapan, dijemputnya kapan. Aku sampe mengkeret nunggunya di rumah. Ketika kutelepon ulang, lha dianya lagi makan martabak. Ya salam dah! Tiga puluh menit kemudian Fikri baru muncul dengan mobil menterengnya.

Bergegas kami menuju ke TKP. Malam makin larut. Hujan lebat. Petir menyambar-nyambar. Serasa kayak di film-film laga zaman TPI dikuasai Mbak Tutut. Jalanan lengang. Cuma satu dua kendaraan yang lewat. Ketika masuk ke lorong panjang menuju sekret FLP ternyata sepinya minta ampun. Tapi dari kejauhan aku melihat sesuatu. Perhatikan seksama, lha sepeda motor toh!

Ternyata Adit dan Daman juga tiba malam itu. Adit kebetulan lagi di area kampus Darussalam. Saat dihubungi Aslan dia langsung bergegas pergi. Disusul Daman yang dapat info dari grup facebook. Padahal Daman hadirnya dari negeri jauhnya minta ampun. Nggak kebayang dia menerobos hujan, petir, badai pasir, lolongan serigala hingga sampai di sekret FLP. Kagum sekaligus takjub.

keadaan sekret FLP sebelum bankir (foto paling gede) & ketika banjir


Air menggenangi halaman sekret FLP. Tingginya setara betis kaki. Yang bikin enggak enaknya, cuma di sekret FLP kebanjiran. Lha, tetangga kanan kiri belakang depan happy tralala nggak terjadi apa-apa. Ya harus diakui, jalan depan sekret lebih tinggi ketimbang pondasi rumah. Jadi semua air di jalan tumpah ruah kemari. Makin parah karena saluran airnya juga nggak lancar.

 Ketika aku dan Fikri tiba keadaan sekret kacau balau kayak kapal dibajak perompak Somalia. Karpet tergulung entah gimana-gimana. Buku tersusun amburadul. Perkakas taman bacaan Rumcay mengapung-apung. Barang tersusun menumpuk di meja bundar tempat biasa ngetik rame-rame. Ternyata inilah hikmah dibalik terlambatnya dijemput Fikri. Semua barang sudah dipindahkan dari jangkauan banjir. Jadi kami cuma leyeh-leyeh sambil ngalor ngidul di tengah malam buta di dalam kepungan banjir.

Sesekali mondar mandir ke depan belakang. Ngumpulin sampah-sampah yang berserakan. Atau pelototin rame-rame kodok air yang loncat-loncat. Aslan sempat cerita, air pertama kali masuk lewat sela-sela pintu. Ia merembes sambil bawa keset kaki, serasa kayak melayang. Awalnya Aslan menduga itu kerjaannya hantu yang lagi nganggur. Makin lama air makin banyak. Bukan cuma masuk dari sela pintu, tapi juga dari retakan ubin. Spontan Aslan langsung selamatin diri. Digulungnya kabel listrik yang menjulur di lantai. Takut kalau kena air bisa kesetrum.

Tak berapa lama Birrul datang. Dia datang nggak bawa apa-apa. Cuma bawa diri. Padahal di sekret kami mulai kelaparan. Biskuit yang tadinya jadi rebutan sewaktu gotong royong malah kecebur dalam air. Entah siapa yang senggol. Tapi yang namanya rezeki nggak kemana-mana. Berselang lima menit kemudian, Bang Catur, suaminya Kak Fida datang tiba-tiba sambil nenteng sesuatu.
Huaaaaa... semuanya berpekik kelaparan. Roti selai Samahani dengan kopi susu panas memang paling nimat kalau lagi basah-basahan.



Semalam kami bubar mendekati jam 2 pagi. Karena nanggung nunggu subuh akhirnya aku, Aslan dan Fikri keliling kota tengah malam buta. Niatnya kepingin cari bandrek, tapi berhubung udah tengah malam yang jualan juga nggak ada, akhirnya singgah di warkop hingga pukul 04:00 WIB.
Ba’da subuh kami kembali lagi ke sekret FLP. Melihat perkembangan terakhir. Ternyata air yang semalam mengalir deras, ternyata deras juga surutnya. Riza menyusul paginya. Sempat angkat ini itu sebelum akhirnya pulang mendekati pukul setengah delapan pagi.

Menjelang siang Ariel, Isni, Muarrif datang mengangkat rak-rak buku untuk memudahkan mengangkat karpet basah. Karpetnya terpaksa di jemur sepanjang pagar, bahkan dijemur juga di atas loteng. Lantai yang kotor ditabur deterjen untuk menghilang bau. Lalu menyikat rame-rame dengan sapu dan pel lantai. Sangking bau-nya ruangan, lantai sengaja kami rendam deterjen hingga sorenya. Para relawan rumcay dan Aula datang bejibaku hingga maghrib, menyikat dan membilas hingga kinclong kembali. Barang-barang masih berantakan. Ketakutan banjir datang lagi, para relawan menahan sela pintu dengan terpal plastik. Yah, setidaknya sedikit usaha daripada tidak sama sekali.



Ketika berlalu dan melihat sekret FLP dari kejauhan yang halamannya masih tergenang. Ada perasaan kasihan, hal yang aku yakin juga dirasakan teman-teman. Mungkin akal sederhana berpikir; terlalu banyak cobaan. Hilang komputer, infocus yang digondol maling. Kader yang pelan-pelan hilang entah dimana juntrungannya. Dan kini sekret yang porak-poranda dalam hitungan menit.

Tapi tetap selalu ada yang disyukuri tanpa perlu diratapi. Aslan yang tiba-tiba menginap di sekret FLP yang akhirnya menjadi saksi pertama melihat banjir masuk dan menyelamatkan barang. Jika tanpa yang singgah malam itu, entah apa jadinya sekret FLP. Mungkin akan lebih banyak lagi kerusakan dan kerugian. Semua telah diatur olehNYA.

Entahlah, tanpa kita tahu mungkin ini cara Tuhan membuat kita tetap sebaris berjalan, berdiri sebahu, atau kembali duduk merapat.
Tapi yakinlah. Karena terlalu banyak cinta disini, hingga kita masih mampu bertahan dikondisi tersulit sekalipun.


###

About Ferhat Muchtar

FERHAT MUCHTAR
Author/Tourism Writer. Dreamers. Ex Banker. Teller Sampai Teler.
Suka makan kuaci. Tukang koleksi buku.
email: ferhattferhat@gmail.com
Tulisan yang mungkin kamu suka × +

7 komentar:

  1. saatnya kembali ke jalan Allah. ferhat harus taubat karena membawa sekulerisme di FLP Aceh

    ReplyDelete
  2. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    ReplyDelete
  3. Ayo mari kita lakukan gerakan perubahan di balik cobaan yang menimpa FLP demi kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berlandaskan ketaqwaan, menuju masyarakat maidani, justice voice dan rhoma irama :)

    ReplyDelete