#e39608 Kalau Caleg Nggak Pede Lagi Kampanye - Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

Kalau Caleg Nggak Pede Lagi Kampanye


www.deviantart.com


AKU tiba-tiba kepingin menulis tentang caleg (calon legislatif). Sebab spanduk-spanduk mereka berseliweran dimana-mana. Bendera parpol mereka berkibarkibar hingga pelosok jalan. Belum lagi nempelnya dimana-dimana. Di pohon baru tumbuh pun jadi.

Berbicara tentang caleg selalu ada yang menarik. Aku tiba-tiba teringat, ketika suatu sore beberapa tahun silam. Saat itu sepasang suami istri bertamu ke rumah. Awalnya kami sempat kaget. Wah, itukan tetangga zaman dulu yang rumahnya sebelahan! Udah lama sekali tidak jumpa dan bersilaturahmi sejak mereka pindah.

Tapi selalu saja ada yang ‘dicurigai’ ketika seseorang lama tak bersua, lalu muncul tiba-tiba. Perkara ini sama halnya seperti seorang teman yang lamaaaa nggak jumpa, trus tiba-tiba menjadi akrab, sering sapa, kirim SMS, trus ujung-ujungnya ngajak jumpa di cafĂ©. Pasti langsung ketebak, “nah, mau nawarin produk MLM nih!” hahahaa…

Si tetangga gini juga. Dia datang ketika masa kampanye lagi semaraknya. Tapi tetap kedatangan mereka disambut hangat. Soalnya sudah lama sekali tidak jumpa. Ibu menyuguhkan teh hangat dengan kue kering.  Obrolan lebih ke hal-hal nostalgia zaman baheula. Tanya kabar si bungsu; kelas berapa sekarang, umur berapa. Tinggal dimana, sibuk apa.

Namun menjelang maghrib, ternyata keakraban ini ‘terselubung’. Si tetangga menyerahkan segepok kartu nama dengan wajah suaminya terpampang besar. Lambang partai menyala terang di sudut kartu. Nah, kan ketebak!

Si tetangga ternyata lagi coba peruntungan jadi caleg dari partai berkuasa. Entahlah sejak kapan suaminya belajar politik. Setahuku dia dulunya kontraktor. Tapi Ibu mulai nggak respek. Sebagai seorang ‘politikus’ ia cenderung mencibir beberapa caleg yang sama-sama kami kenal. Jadi ujung-ujungnya, pertemuan sore itu malah ngegosipin orang lain yang maju jadi caleg. Jadi sederhananya, caleg gosipin caleg.
Arrggghhtt…

Puncaknya ketika mau pulang. Si istri caleg berseloroh pelan. Malah kedengarannya sedikit mengiba. “Bu jangan lupa pilih kami ya. Mana tau nanti bisa beli tanah disini, kita bisa jadi tetangga lagi…”
Hah!! APA!!
Ibarat sinetron, mungkin keterkejutan ini dizoom berulangkali memenuhi ukuran TV.

Sepulang mereka, obrolan tadi itu jadi ‘cibiran’ di rumah. Pertemuan yang awalnya kepingin jadi nostalgia, eh malah berujung duka. Agak aneh, kok segampang itu? Baru jadi caleg tapi niatnya malah begini. Bukannya tampung aspirasi, malah kepingin beli tanah.
Kami sekeluarga tertawa terbahak. Mengingat begitu polosnya tujuan mereka. Andaikan ada ratusan caleg kayak gini. Jangan harap bisa maju negeri ini. Maka kami sekeluargapun memboikot. Tidak ada yang mencoblosnya, walaupun itu ‘mantan’ tetangga dulu.

Obrolan itu terus dikenang hingga kini. Obrolan tentang produk gagal nawaitu seorang caleg. Kalau di rumah lagi ngumpul bahas pemilu, pasti peristiwa di atas kebawa-bawa.
Kalau diperhatiin selalu ada yang seru dari caleg-caleg ini.

Aku jadi teringat dengan poster online di media sosial. Yang nggak mampu pikir sampai searang, kenapa banyak sekali calon legislatif yang nebeng nama besar orang lain. Entah itu ulama, rekan partainya, public figure, sampai nama orangtuanya yang mungkin cuma dikenal keluarga sama tetangga sebelah rumah. Nama dan foto mereka tersemat berbarengan dalam satu frame. Sempat terpikir, lha ini mau jadi caleg kok nggak pede. Gimana nanti?

Model-model gini mudah sekali ditemui akhir-akhir ini. Keseringan di baliho dan spanduk. Muka calegnya garang, namanya terpampang besar. Eh ujung-ujungnya malah nongol muka artis! Hadeuhhh.
Yang paling repot, salah satu partai besar. Calegnya pasang foto dengan nomor urut ukuran besar. Tapi yang bikin ilfeel, lha kenapa muncul tokoh-tokoh lain dari pulau seberang. Baliho yang ukurannya nggak seberapa mana itu malah sesak nggak karuan. Ini masih mending di baliho. Sering juga kulihat jadi striker kaca mobil. Kadang-kadang sangking penuhnya, aku malah heran. Ini sebenarnya yang mau dicoblos yang mana sih??

Jangankan tokoh besar. Sekarang aku perhatikan juga ada embel-embel khusus mengikuti nama si caleg. Misalnya nama caleg Markonah, trus di bawah namanya tertulis dalam kurung (anak Pak Syamsuddin). Jreeenggg…jreenggg… Syamsuddin itu sopo??  Hahaha… beneran melihat ini malah terkikik kepingin pingsan. Ini beneran kualami sebulan lalu.

Aku keluarkan motor dari garasi. Sebelum berangkat, ‘kupanasi’ dulu mesinnya sambil beres-beres dan buka gerbang. Seketika mataku terserobok di spanduk depan rumah. Entah sejak kapan spanduk caleg melintang di depan rumah. Padahal semalam tadi aku pulang lumayan larut, tapi belum ada spanduk itu.
“Kayaknya tengah malam tadi diikatnya,” ujar Ibu di teras rumah. Berdua kami pelototin spanduknya. Lebih tepatnya pelototin muka si Ibu muda yang lagi sumringah di spanduk.
“Gimana diikatnya, naik ke pagar kita?” tanyaku.
“Mungin aja,” sahut Ibu.

Yah, kali aja memang naik ke pagar rumah. Soalnya melintangnya tepat di ruas jalan depan rumah. Diikat dari satu tiang listrik ke tiang listrik di seberangnya. Nah, lucunya kedua tiang listrik itu letaknya nggak sejajar. Kalau sejajar kan enak, spanduknya bisa menghadap langsung ke arah jalan. Jadi pengguna jalan bisa jelas baca.  Tapi gara-gara tiang listriknya nggak saling sejajar, jadi spanduknya malah melintang menghadap teras rumah! Awalnya kami serumah biasa aja, tapi dipandang lama-lama kok aneh ya?
“Kayaknya yang bisa lihat cuma kita aja serumah,” ujar Ibu polos. Berdua kami cekikikan.
Ibu malah lanjut, “itu lagi, di bawah namanya pake keterangan Anak Ibu Zubaedah. Siapa lagi Ibu Zubaedah?”

Aku merapat ke pagar, melihat lebih seksama. Melihat foto si Ibu muda dengan embel-embel Anak Ibu Zubaedah di bawahnya.
Aku terbahak “Siapa Ibu Zubaedah?”
Ibu ikutan tertawa. “Mana tau, Zubaedah lagi namanya. Ada banyak nama-nama kayak gitu di luar sana,”
Oh iya, ada ratusan nama Zubaedah di muka bumi ini. Sama halnya kalau aku lihat spanduk dengan embel-embel; Putri Ummi Kulsum, Anak Kedua Ainal Mardhiah.
Nah, repotkan? Yang jadi calegpun belum begitu dikenal, nama referensinya pun sama sekali nggak dikenal. 

Jadi saat pemilu nanti, jadilah pemilih cerdas. Kenali calonnya, tahu visi misinya.



About Ferhat Muchtar

FERHAT MUCHTAR
Author/Tourism Writer. Dreamers. Ex Banker. Teller Sampai Teler.
Suka makan kuaci. Tukang koleksi buku.
email: ferhattferhat@gmail.com
Tulisan yang mungkin kamu suka × +

11 komentar:

  1. Ibu saya namanya zubaidah, yang di depan rumah abang bukan poster kampanye kakak saya kan?
    :-s

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhahahaaa... kok bisa sama..
      Zubaedah di tulisan di atas cm samaran, nama aslinya nggak berani cantumkan. tkut beneran ada yg baca.. kalo penasaran nama sebnarnya siapa, ke rumah abg aja. hahahahaaa

      Delete
    2. Jiahahaaaa... Ferhat bikin nama samaran Zubaidah, rupanya nama ibu Nazri :D

      Delete
    3. hahaha..
      eh, kalo disetting jadi opini menarik itu postingannya.
      biar gak salah pilih.

      Delete
  2. Sepertinya para caleg itu melihat kursi di legislatif seperti melihat harta karun. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. makanya nggk salah sewaktu berhasil duduk disana, digaruk semua harta karunnya..

      Delete
  3. Nggak sabar menjelang pemilu, buat nerima uang serangan fajar. Mau nawar, kalo mau dicoblos situ bayar saya seratus juta

    ReplyDelete
  4. Jangankan dijalan. Caleg di fb aja juga bikin geleng-geleng. Pada kompak, kompak ngejelekin partai lain, calon lain, demi sebuah tahta. Yg gitu itu dikira malah dipilih orang apa ya. Biar kata partai islam... Tapi kalau kampanyenya capek jelekin org lain, mikir-mikir dulu deh.
    Harusnya mereka mikir untuk ngambil hati yang bukan partisipan... Klo target pemilih mereka sesama mereka aja yaa.. jelas idem-idem aja apapun status yang dibuat.
    Tapi mereka justru bikin calon pemilih jadi antipati.
    Dari pada capek jelekin orang, heboh foto partai melakukan A B C, foto diri yg lagi down to earth... mendingan bikin status yang bisa bikin kita yg baca ini punya semangat kebangsaan, kebangkitan, biar maju.

    ReplyDelete
  5. Para caleg mulai hilang identitas, tidak di Aceh sampai tingkat nasional. Yang penting hak suara jangan sampai terabaikan. Pesan ini disampaikan oleh jeng jeng jeng :D

    ReplyDelete
  6. Haha. Aneh-aneh sekali perangai caleg yahhh. Di Prada jg ada tuh caleg yg bawa2 nama almarhum di bannernya. Pilih Fulan bin Fulin (anak almarhum Teungku Folan bin Folen).

    ReplyDelete
  7. datang berkunjung, saleum meuturi ferhat...dimana-mana ya gitu, knp ngak orangtuanya aja yg nyaleg ya.

    ReplyDelete