#e39608 Kubah Tsunami Aceh di Tengah Sawah - Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

Kubah Tsunami Aceh di Tengah Sawah

Kubah masjid ini terdampar di tengah sawah. Jauh dari pemukiman penduduk. Bersebelahan dengan lereng gunung.



SEPEDA motor kuarahkan menuju jalan utama Ujung Pancu. Suara ombak bergemuruh pelan. Dulunya saat tsunami Aceh kawasan ini terbilang parah. Tapal batas sisa rumah masih terlihat. Sebagian bersanding dengan rumah baru bantuan donatur. Sebagian lagi dibiarkan apa adanya. Rumput menjalar tak karuan. Bisa jadi, tak ada lagi ahli waris yang mengurusinya. Sebuah tugu berbentuk tiang menjulang tinggi di tepi jalan. Itu sebagai tanda ketinggian air di daerah ini sewaktu tsunami dulu.

Perjalananku pagi ini bersama teman-teman menuju ke tempat yang sudah lama aku incar. Kubah Masjid Al-Tsunami begitu orang-orang menyebutnya. Kubah ini letaknya di tengah sawah, di sekitar lereng gunung. Hanya kubah! Tidak ada bangunan utuh selayaknya masjid. Siapapun yang melihatnya pasti akan mengernyit. Bagaimana mungkin sebuah kubah bisa ada di tengah sawah. Ini adalah bukti kesekian bagaimana dahsyatnya tsunami menyapu segalanya.

Aku menjumpai Pak Darmawan ketika tiba di lokasi. Ia menyambut ramah lalu mempersilahkan kami mengisi buku tamu. Di meja juga kulihat beberapa souvenir Aceh yang dijajakan untuk pengunjung. Seperti dompet Aceh, atau kipas rotan. Selemparan batu dari meja, terdapat celengan besi yang digunakan untuk menampung sumbangan pengunjung.

Pak Darmawan bercerita banyak. Dulunya kubah ini bagian dari Masjid di desa Lamteungoh yang berjarak 2,5 KM dari tempat kami berdiri sekarang. Tsunami menghancurkan bangunan masjid. Air tinggi menyeret kubah hingga terdampar di tengah sawah desa Gurah, Peukan Bada.



Aku mencoba menggali banyak kejadian saat itu. Rupanya Pak Darmawan tak berada di lokasi ini saat kejadian. Ia juga mendengar penuturan warga yang selamat.
“Sewaktu tsunami saya di Blang Pidie,” jawabnya.

Konflik Aceh kala itu membuatnya terpaksa mengungsi. Dulunya kawasan ini termasuk zona merah. Mungkin bisa jadi karena dikelilingi lereng gunung, yang kerap dijadikan tempat persembunyian mereka yang bertikai.
Pak Darmawan bercerita, ia tahu jika kampungnya dihempas tsunami melalui televisi. “sewaktu itu saya nonton di warung kopi. Begitu tahu tempat saya rata kena tsunami, saya langsung pingsan,”





Selepas itu pikirannya tak lagi nyaman. Terus teringat orangtua dan sanak saudaranya. Ia pun memilih kembali ke desa Gurah. Menyaksikan dengan nyata kerusakan parah. Rumah rata, pohon-pohon tercerabut, hingga mayat bergelimpangan.

Ada yang menggelitik bagiku apa yang dilakukan Pak Darmawan ini. Bayangkan kubah ini berada jauh dari hiruk pikuk pemukiman warga. Tapi Pak Darmawan memberikan seluruh hidupnya untuk mengurusi lokasi ini. Ia pun terbilang gencar mengumpulkan dana untuk membuat lokasi ini menarik hingga tidak dilupakan.
“Ibu saya meninggal ketika tsunami. Sampai sekarang jasadnya tak tahu dimana. Tapi saya sering bermimpi, jika jasad Ibu tertimbun oleh bangunan masjid yang hancur. Dan saya meyakininya disini,” cerita Darmawan saat kutanya.

Dan baginya, menjaga lokasi ini bukan sebatas menjaga situs tsunami. Tapi lebih dari itu: menjaga ‘makam’ Ibu.
Menurut cerita yang ia, saat tsunami ramai warga yang berpegangan pada tiang-tiang masjid. Bisa jadi di bawah kubah ini masih tertimbun jasad warga.

Aku melihat lebih dekat. Melongok ke dalam kubah yang cekung. Setiap kali aku dan teman-teman berbicara, suara terdengar bergema. Teras kubah yang menjadi altar tiang terlihat samar terkubur dalam tanah.
Selain kubah, di area tak luas ini juga ada balee. Semacam pondok peristirahatan. Balee ini bersebelahan dengan sumur. Di dalamnya terdapat beberapa foto ketika awal pertama kali kubah ditemukan. Selain itu juga terdapat beberapa foto suasana tsunami di beberapa lokasi di Aceh.

Walaupun terbilang jauh dari pusat kota Banda Aceh, ternyata tempat ini kerap disambangi pengunjung. Pak Darmawan mengaku, wisatawan Malaysia sering datang kemari. Selain untuk melihat-lihat, mereka kerap menyerahkan sedikit dana untuk perawatan kubah.
“Sepertinya lokasi ini sudah terkenal di Malaysia. Setiap kali wisatawan Malaysia ke Aceh pasti mereka singgah kemari” sahutnya.

##

About Ferhat Muchtar

FERHAT MUCHTAR
Author/Tourism Writer. Dreamers. Ex Banker. Teller Sampai Teler.
Suka makan kuaci. Tukang koleksi buku.
email: ferhattferhat@gmail.com
Tulisan yang mungkin kamu suka × +

16 komentar:

  1. Sudah lumayan terawat lokasi wisata sejarah tsunami ini, semoga semakin banyak informasi yang di dapat dari gampong Gurah ini. Setidaknya masyarakat gampong bisa menjaganya ke depan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener sekali aulia.. tpi sokongan dana juga penting demi kebaikan tempat ini. mudah2n dinas terkait memperhatikannya..

      Delete
  2. Wah, ini situs tsunami paling jarang diliput.
    Kapan-kapan kita harus jalan-jalan cari yang kayak gini..
    8-)

    ReplyDelete
  3. Dengan siapa perginya hat? kulihat ada empat orang itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada Isni, Junaida, Aslan, Adit jg pergi..

      Delete
  4. bang... ajak mirdha lah untuk yg moment seperti ini....

    iy,,iy,,,iy,,,,

    ReplyDelete
  5. akan menjadi sejarah akan dipetik oleh anak cucu kita dan bisa mengenang masa masa tsunami yang telah berlalu pergi tanpa sisa

    ReplyDelete
  6. banyak cerita disana, banyak makna, hal semacam ini menggelitik imaji - apa, mengapa dan bagaimana? Mungkin kalau boleh saya tebak2 manggis he-he (ada persepsi mistis - ciri khas orang Indonesia), itu sah-sah saja---apa yah cerita mistisnya? :)
    Sungguh cerita yang asyikkk
    Salam Saya Ms Ferhat...

    ReplyDelete
  7. hahahaha kubah mesjid al-tsunami, ini nama yg unik :D
    lokasi wisata ini jarang kita dengar, monza aja baru tau nih dari blog abg :D

    ReplyDelete
  8. Foto-fotonya menghadirkan pilu, Ferhat!

    ReplyDelete
  9. Sekarang kondisinya sudah subur dan rapi ya, masyaallah

    ReplyDelete
  10. rute untuk menuju kesana lewat mana bg? mungkin bisa dikasih peta atao semacamnya..

    ReplyDelete
  11. Assalamualaikum Encik Ferhat Muchtar. Saya seorang writer novel dari Malaysia. Izinkan saya mengambil sedikit kisah dan maklumat tentang Aceh di blog ini ye. Untuk pedoman semua insan. jika anda keberatan untuk membenarkan, sila beritahu saya di email ukhti1805@gmail.com

    ReplyDelete
  12. salam..
    boleh, dengan senang hati..
    sila ambil informasi mengenai kisah dan maklumat di blog saye..
    semoga berkenan dan membantu encik

    --

    ReplyDelete