#e39608 Nini Hebring - Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

Nini Hebring




Sekilas Ibu ini udah berumur (agak sopan nggak nyebutnya udah tuwir). Tapi hebringnya nggak terkira. Ngerasa kayak ABG. Dia punya supermarket besar di kota. Karyawannya lumayan banyak. Trus rada sok kompak. Kadang-kadang nyebelin. Baru kenal, eh akrabnya nggak kira-kira.

Biasanya si Ibu hebring ini ke kantor, keseringan datang untuk tukar uang atau nyetor uang ke supplier pusatnya. Tulisannya keriting mirip cakaran ayam kena kusta. Acak kadut bikin mata rabun yang lihatnya. Karyawannya pun keseringan nggak bisa baca tulisannya. Aku udah beberapa kali ngingatin mereka, "sebelum nyetor, tolong diperiksa dulu ya. Tulisannya bisa diperjelas.."

Kayak biasa mereka cuma ngangguk-ngangguk. Trus besoknya, yaaa sama lagi. Berulang-ulang. Karena keseringan, aku malah makin jago baca tulisan ibu Hebring ini. Dia kayaknya lebih cocok jadi dokter ketimbang pemilik supermarket.



Yang keseringan bikin heboh, si Ibu yang hobi bergincu merah sukaa bener teriak-teriak dari pintu masuk kantor. Ngerasa kayak masuk rumah sendiri. Suaranya yang kenes trus menye'-menye' gitu kayak anak-anak SMA yang masih labil, padahal umurnya. Hmmm... Mana keriputnya menggelambir kemana-mana lagi.

"Abang manissssssss....."

teriaknya berulang-ulang dari pintu masuk. Entah kenapa setiap kali dia mau traksaksi ke teller pasti ke mejaku. Hadeuhh..

"Iya ibu, apa kabar"

"Baikkkkkkkk..." senyumnya merekah. Rambutnya grasak-grusuk keluar dari kerudungnya nggak rapi. Kali ini datangnya agak rombongan. Seorang satpam berbadan tegap, dengan beberapa orang karyawannya yang sebenarnya nggak cantik tapi dipaksa cantik dengan dandanan menor.

"Mau nyetor?"

"Ho'oh" angguknya sok imut.

Halah!

Trus dia keluarin pecahan duitnya yang bulukan. Nyerahin slip setoran dengan tulisan zaman romawi kuno.

Arrgghhtt..

"Ini tulisan Ibu ya?" aku coba mastiin walaupun sebenarnya udah tau dari beberapa pengakuan karyawannya.

"hahhahahaha...." beuh, dia ketawa, "kenapa? susah baca ya? ehhemmeehmmmhehehe..." dia senyum dikulum. Menutup mulutnya dengan kepalan tangan.

Duh, imutnya ni Ibu.

"Ini sebenarnya tulisan dokter! hehehe..."

yayayya.. terserah deh lu mau ngomong apaan.

Aku mulai menghitung uang. Dengan kemampuan menahun ngitung uang pake 3 jari, zreettt..zrettt..bablas semua uang kuhitung cepat.

"Ihh, jari kamu manis ya!"

Glek! Duilee, apaan ni orang tua!Diam-diam sembari aku ngitung uang tadi, si Ibu Hebring malah pelototin jariku. Nggak ada kerjaan ni orang.

"Jarinya putih, bersih..."

Aku senyum. Bete sebenarnya. Tapi karena pantang dipuji, aku makin muji ngasal, "Bagus kan bu. Ini jari makin bagus kalo aku ngitung duit sendiri bukan duit orang..."

"haaahaaaaha..." dia ketawa lebar. Gigi gerahamnya kebuka kemana-mana. Karyawannya juga ikut-ikutan ketawa.

Basi!

"Aduhhh, abang ganteng ini!' kelakarnya sambil menyebut ganteng dengan ejaan 'e' kayak nyebut 'genteng'.

"Eh, batik kamu bagus lho!"

Yaelllah ngegombal lagi ini nini-nini.

"Bagus ya bu? ini aku beli di toko Ibu. Agak mahal, tapi yang namanya juga kita orang kaya apalah artinya duit..." jawabku makin ngasal.

"hahahhahahahhaha..." dia makin ketawa menganga. Kali ini kepalan tangannya nutupin mulutnya, "Duhh si Abang bisa ajahhhh..."

Transaksi selesai. Aku  nyudahin segala urusan remeh temehnya.

"Udah ibu, ada lagi yang bisa dibantu?"

Si Ibu hebring ngerapiin tas di meja counter, "eh, udah ya. Terimaksih abang ganteeeeeeeeenggggggggggggg....." tetap dengan ejaan "e" gentengnya.

Byee byee dia keluar. Aku hidup normal lagi.

Dan bertubi-tubi dia datang beberapa hari sekali. Dengan kehebohan tiada tara yang kadang-kadang bikin aku jengah dan malu dengan teman sekantor. Syukur kalo digodain yang seusia, lah ini digodain sama emak-emak.

Kadang-kadang si Ibu Hebring datangnya nggak dengan karyawannya, tapi selalu dikawal sama satpam-satpam muda berwajah kinclong. Padahal transaksinya juga nggak gede-gede amat. Kalo pergi sendiri juga nggak bakal diculik. Lagian siapa lagi yang mau nyulik. hehe..

"Sendirian Bu datangnya?" tanyaku suatu siang sewaktu dia datang lagi ke kantor. Basa basi sih maksudnya.

"Nggaaaak..tuh ada!" sahutnya sambil nunjuk lelaki jangkung di kursi banking hall, "Maniss kan satpamnya?? Ganteeeengkann?? itu pengawal ibu..." lanjutnya lagi.

Ihhh, apaan sih!

Sangking akrabnya (sok akrab seh) dia ke kantor, kadang-kadang dia nyepil serobot antrian. Lagi buru-burulah, ada yang nungguinlah, malas antri lah. Bejibun alasan!

Satu dua kali bisalah dibantuin. Kalo keseringan? Beuhhh bikin mendidih! Mana suaranya menye'-menye' gitu lagi.

Kayak siang itu. Lagi antrian rame-ramenya, trus dia datang tiba-tiba. Bleepp!! si Ibu Hebring langsung serobot disela-sela nasabah yang lagi nyetor uang di counterku.

"Nitip aja yaa.."

Argghhttt..."Antri aja bu.." aku balik nyodorin uang dengan slip setorannya.

Dia balik duduk di bangku banking hall. Sesekali lirik TV flat didepan mastiin nomor antrian. Banking hall rame, lagi awal bulan soalnya.

Beberapa menit kemudian dia datang lagi, "Nitip aja. Sekalian saya nanti mau tukar uang pecahan.."

"Iyyyyaaaa, Ibu nunggu aja. nanti juga dipanggil.." Sahutku *gigit bibir.

Aku masih ngitung uang-uang yang amburadul dari nasabah didepan. Lima menit kemudiah, eh, si Ibu nongol lagi.

"Aduuhhh kelamaan. Nitip aja yaaa.." suaranya menye'-menye'. Arrgghhh..kok mendidih ya.

"Ibuuuu...antrian rame. Ibu nunggu ajaaaa..."

"Haduuhhh.." dia hentak-hentak kaki. Ya ampunn!! genitnya!

Masa bodo'. Kutinggalin si Ibu hebring. Terserahlah, mau guling-guling kek. Meraung-raung kek. Masa bodo'!!

Lha, beberapa menit kemudian dia nongol lagi! Ya  ampuunnnn orang tua!

"Cepatinn donnkk. Ibu buru-buru..."

Arggghhhhh...cari penyakit!!!

"IBUUU!! BISA SABAR NGGAK?! ANTRIAN RAME! SEMUA ORANG JUGA KEPINGIN BURU-BURU!!"

Blepp!! dia tergagap!

Rasain lu, guwek maki!

Mukanya langsung berubah, "Makanya cepatan donk!!! Saya dari tadi nunggu nggak dipanggil-panggil!!!"

Beuhh, galak rupanya si Ibu.

Akhirnya kepanggil juga nomor antriannya. Nggak ada lagi suara kenes atau goda-godi andalannya. Nggak tau, tersinggung kali. Haahahhaa..

Keesokan harinya dia datang lagi. Karena keingat kejadian kemarin aku malah malas berakrab-akrab ria. Takut dia kalap trus balas dendam. Bisa jadi masih tersinggung. Tapi ternyata...

"Abangggggg manissssss...."

Jreenggjreenggg...

Dia datang dengan penampilan cetar! Aku sampe pangling lihatnya. Baju terusan sampe rok berwarna merah merona sejadi-jadinya. Diatasnya blezzer hitam pekat . Ditangan kirinya tas kecil disangkut disiku tangan. Trus kali ini nggak pake kerudung. Rambutnya digibas sampe ke bawah, trus dilempar ke samping. Kepalanya agak meyeng akhirnya, keberatan rambut mungkin. Yang bikin aku makin kaget, ya ampunnnnn itu bibir kayak kena getah manggis! meraaaaahhhhhhh. Nyaingin merah bajunya.

"Wuihhh, mirip Syahrini bu!" Sontak aku muji. Kali ini bener-bener ikhlas mujinya.

"Hoohhohooooo..heheheh..Mau pulang kampung. Mudik..." sahutnya sambil menyebut kota seberang, "Ini mau ke aiiirporttt..." sahutnya.

Syaelllaaa... airport.

Kucluk-kucluk dia keluar dengan serombongan karyawan-karyawannya. Cekikikan kegirangan. Kayak anak-anak SMA lagi jam istirahat. Cuma satu orang yang tinggal di kantor, nyelesain transaksi di teller.

"Si Ibu pulang kampung ya?" tanyaku lagi.

Si karyawan bermuka lugu cuma ngangguk pelan sambil mencet-mencet handphonenya.

"Oohh, memang dari sana asalnya? trus disini tinggal dimana?" tanyaku lagi.

"Disini ngekost.." sahut si karyawan tetap mencet-mencet handphone.

"Lha, trus suaminya gimana? anak-anaknya gimana?" tanyaku makin kepingin tau.

Si karyawan mendongak, "si Ibu belum married..."

Upss!! *no comment dah!


#Cerita ini ada di buku terbaru saya TELLER SAMPAI TELER (Elexmedia)

About Ferhat Muchtar

FERHAT MUCHTAR
Author/Tourism Writer. Dreamers. Ex Banker. Teller Sampai Teler.
Suka makan kuaci. Tukang koleksi buku.
email: ferhattferhat@gmail.com
Tulisan yang mungkin kamu suka × +

8 komentar:

  1. hahaha....
    ngebayangin si ibk Hebring lagi ngerayu
    sing sabar yo mas :D
    Salam kenal dari Batam ^^

    ReplyDelete
  2. terimksih mb dian udh mampir..

    ReplyDelete
  3. keren bro hahhaha
    salam dr peureulak yeee

    ReplyDelete
  4. wkwwkw, ngakak aku baca ini. bener2 "shyarini" banget ya, cetar membahana! ^_*

    ReplyDelete
  5. hehehehe... sengkiyu ya udah mampir..

    ReplyDelete
  6. asyeeekkkk..
    salam kenal bro!

    ReplyDelete
  7. Hahahaa...
    jadi penasaran pengen kenal sama si ibu XD

    ReplyDelete
  8. ehehehhh....nanti kalo disebutkan nama tokonya ketahuan..

    ReplyDelete