#e39608 Saat Tsunami Aceh Datang ke Rumah - Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

Saat Tsunami Aceh Datang ke Rumah



Aku melihat air pekat datang. Awalnya berasal dari selokan di pinggir jalan komplek. Airnya hitam. Ada letupan selayaknya mendidih. Lalu tembok penyangga parit pecah. Air berhamburan.



Tsunami AcehAku menulis ini selepas menonton tayangan tsunami Aceh di TV swasta. Tanpa sadar, hari ini genap sepuluh tahun tsunami Aceh. Tak terasa. Dan waktu begitu cepat berlari. Entah baru kemarin merasakan goyangan dahsyat, air datang dan ketakutan sepanjang hari.

Aku yakin, dari seluruh rangkaian hidup masyarakat Aceh, kisah tsunami Aceh adalah jalinan cerita yang mampu diurai secara lengkap. Teringat sepuluh tahun lalu. Malam sebelum tsunami, aku beserta penghuni rumah cekikikan di ruang TV. Film Suster Act terlalu rugi untuk dilewatkan. Bergadanglah hingga larut. Ketawa hingga mampus menonton aksi suster jadi-jadian itu. Sebelumnya, saat maghrib, kami sekeluarga direpotkan dengan persiapan hajatan ulangtahun keponakan tertua yang digelar besok.

Dapur riuh. Mesin adonan bising. Di ruang makan, selepas maghrib kami meniup balon hingga puluhan. Lalu menggantungnya di tali yang menjuntai di tengah ruangan. Singkatnya, kami melewati malam 26 Desember dengan bahagia.

Tak ada yang menduga keesokan paginya.
Aku teringat, Minggu pagi itu sedang menonton serial Doraemon. Dapur makin terasa bising. Sambil menonton, beberapa snack ulangtahun kurapikan dalam kantung untuk dibagikan ke tamu nanti. Hingga sedetik kemudian, lemari di belakang bergoyang pelan.
“Gempa!” pekik anggota rumah dari ruang tamu. Aku masih bertahan. Goyangan makin kuat terasa. Kali ini suara lemari terasa lebih kuat.

Bergegas keluar. Teriak memanggil orang rumah. Sejenak kami berdiri di muka teras. Hingga akhirnya tersadar, gempa semakin deras. Sangat kuat.
Semua orang berkumpul di tengah jalan. Saling memeluk mengikuti irama tanah yang tak beraturan. Sempat aku lihat, dari ujung jalan, warga komplek tumpah ruah. Semuanya saling memeluk, sambil menatap rumah. Berharap tak roboh.

Gempanya kuat dan lama. Aku berzikir berulang-ulang, hingga terbesit heran, kenapa lama sekali gempanya. Kenapa tak henti-henti.
Suara tangis mulai terdengar. Warga memekik di ujung sana. Ternyata, gedung PLN yang letaknya tak terlalu jauh, roboh bagian belakangnya. Hingga sekarang, aku masih ingat bagaimana asing dan anehnya suasana pagi itu selepas gempa. Seperti hampa. Kosong.

Ketika tetangga depan rumah pulang dari kota, kami berkerumun. Mendengar ceritanya apa yang terjadi di kota. Pante Pirak (swalayan terbesar di Banda Aceh) roboh, Kubah Masjid Al Makmur amblas, pertokoan hancur, menara Masjid Raya retak parah. Warga pun berbondong tanya, bagaimana dengan Masjid Raya Baiturrahman? Pertanyaan ini paling ramai ditanya warga komplek selepas gempa.

Hingga sekarang pun aku masih ingat, ketika melihat kerumunan burung terbang tak beraturan kembali ke sarang (arah gunung) selepas gempa. Kami memandang itu biasa. Lebih tepatnya tak paham. Malah sibuk masuk ke rumah melihat kerusakan. Lemari yang pecah, keramik yang berhamburan, lampu gantung yang hampir copot.

Hingga kemudian, suara di ujung jalan mengagetkan semuanya. Seorang gadis berteriak. Ia memeluk rekannya di tengah jalan. Dari kejauhan kami cuma menduga. Mungkin gadis itu ketakutan dengan gempa. Tak dinyana, sejurus kemudian, pekikan makin tak karuan. Bergegas aku ke arah sana, memastikan lebih dekat apa yang terjadi. Baru beberapa langkah berlari, malah yang diujung jalan balik arah berlari. Pekikan mereka sama.
“Air laut naik!! Air laut naik!!”
Aku melihat air pekat datang. Awalnya berasal dari selokan di pinggir jalan komplek. Airnya hitam. Ada letupan selayaknya mendidih. Lalu tembok penyangga parit pecah. Air berhamburan.

Suasana panik langsung menjalar. Ketakutan semakin bertambah. Teriakan terdengar dimana-mana. Bergegas aku berlarian ke rumah tetangga di depan berlantai dua. Semuanya seakan dikomando ke jalur yang sama. Di lorong tangga yang sempit kami berebutan naik. Dari lantai dua, kami memandang air laut datang menggenangi perlahan.

Saat itu yang terpikir oleh kami adalah; kenapa tiba-tiba bisa ada air? Datang perlahan dan menggenangi perlahan. Karena area komplek banyak tanah lapang, air terlebih dahulu memenuhi area kosong. Dari lantai dua kami mulai menerka-nerka. Ini sepertinya banjir. Seekor anjing berlarian di tengah kepungan air.

Aku dan beberapa anggota keluarga akhirnya memilih turun. Ketidaktahuan bencana ini yang membuat kami menuju rumah. Di dalam rumah, kami menyelamatkan barang-barang yang perlu diselamatkan. Menggulung karpet, mengangkat mesin cuci dan kulkas agar tak tergenang, mengangkat sofa ke tempat aman, membungkus baju kotor yang menyemak di lantai, melipat gorden yang menjuntai, hingga mengumpulkan kembali snack ulangtahun.

Air terus datang. Warnanya pekat. Aku teringat, saat keluar masuk rumah air mulai menggenangi teras. Kami masih terus bejibaku. Hingga tersadar air semakin tinggi dalam hitungan detik. Aku berteriak. Memanggil anggota rumah lainnya untuk lekas keluar. Ketinggian airnya masih rendah, hanya selutut. Tapi deras tak terkira. Kami saling berpegangan erat hanya untuk menyebrang ke rumah depan.

Nalar kami pun masih belum paham kenapa bisa begini. Hingga siang, kami masih sibuk dorong-dorong mobil tetangga yang mogok. Saat surut, lumpur menggenang. Bergegas kami membereskan rumah. Disaat itulah, seorang Bapak lewat depan rumah dengan kondisi memprihatinkan. Tubuhnya tersayat-sayat. Penuh luka. Darah. Hanya mengenakan celana panjang yang sobek disana-sini. Dia dari kampung seberang. Lirih ia berujar sambil lalu, “Disana airnya tinggi. Saya tergulung-gulung di dalam air. Alhamdulillah disini tidak terlalu tinggi.”

Kami menatap bisu. Penuh tanya.
Selepas itu, pelan-pelan kabar tiba dari orang berbeda. Katanya, ada tiga ratus mayat di Krueng (sungai) Aceh. Berselang menit kemudian, ada yang menyebut tiga ribuan. Puluhan ribuan. Hingga angka tak terbilang. Disaat itu semua tersadar. Ada sesuatu terjadi di luar sana yang lebih dahsyat.
Disanalah kami mulai risau. Ibu-ibu panik dan menangis di sepanjang jalan. Terlebih satu persatu kerabat tetangga dari jauh mulai berdatangan. Mereka mengabarkan ada ombak setinggi pohon kelapa di desa seberang. Airnya hitam. Lebih deras dan lebih tinggi.

Kami tersadar, di komplek ini ternyata hanya “hempasan” sisa gelombang. Ada yang lebih hebat di luar sana. Riuh cerita pun bergulir. Ada mayat di jalan utama. Lorong sebelah bahkan airnya mencapai sedada orang dewasa sebab pemukimannya lebih padat. Di langit helikopter berputar-putar sejak tadi. Gempa berulangkali muncul. Tersentak ketakutan. Isu air laut kembali naik berulang-ulang terdengar. Tidak ada yang nyaman dengan kondisi itu. Semua ketakutan. Ketakutan yang dibawa hingga malam.

Aku masih teringat, malam itu kami seluruh tetangga berkumpul di satu rumah tetangga. Dari ruang tamu hingga dapur penuh orang mengungsi. Listrik mati total. Jaringan komunikasi putus. Tak ada yang tahu bagaimana cerita sebenarnya yang terjadi. Semuanya hanya menunggu cerita dari yang selamat.
Malam itu tidak ada yang tidur. Semua berjaga dan siaga. Gempa berulang-ulang terjadi. Di luar hujan pelan turun. Sungguh suasana menyeramkan. Mati lampu. Gempa. Hujan. dan sunyi.

Keesokan harinya suasana tetap sama. Tetangga sebelah yang kebetulan punya genset dan menonton televisi, berurai panjang. Ternyata musibah ini bukan cuma di Banda Aceh, tapi menjurus hingga beberapa kota lainnya. Bahkan negara tetangga.
“Di TV beritanya udah heboh,” ujar tetangga.

Dan hari itu, 27 Desember 2004, pelan-pelan tetangga mulai mengungsi. Semuanya berkemas dengan membawa kebutuhan seadanya. Mendadak komplek kosong hingga berbulan ke depan. Semua mengungsi. Isu air laut naik kembali terdengar. Terlebih ada banyak mayat di seputaran Banda Aceh. Wabah penyakit siap menghadang. Termasuk kolera. Bahkan isu Banda Aceh akan disemprot dari helikopter untuk menghadang wabah kolera sempat mencuat. Semuanya kalang kabut.

Tak ada yang ingin dengan kondisi ini. Tapi semua harus dilewati. Jaringan komunikasi putus. Listrik mati. Antri air bersih dari pasukan Australia. Antri bantuan mie instan. Membersihkan rumah di saat kota kosong melompong. Untuk bagian ini aku masih terekam kuat. Pulang ke rumah beberapa hari kemudian. Komplek kosong. Kota nyaris mati. Lumpur mulai mengering. Tanaman mati kerontang. Hanya ada anjing kurus kering yang muncul dari semak-semak kering. Mencari makan.

Tapi selalu ada kabar bahagia dari setiap ujian. Damai Aceh mungkin salah satu jawabannya. Selalu ada pelajaran dari setiap cobaan. Belajar Ikhlas dan bersyukur mungkin pelajaran terbaik. Ikhlas terhadap apa yang terjadi. Dan bersyukur, ternyata di tengah kehancuran hidup, selalu ada sisi lain yang membahagiakan. Hanya sudut pandang yang perlu diperlebar. Sebab ada banyak sudut yang mengurai hikmah.

Menulis ini menjelang siang. Di sudut kamar. Sepuluh tahun lalu, di jam yang sama, menjelang siang masih kebingungan dan kelaparan. Namun hari ini, cerita mulai berbeda.
Untuk mereka yang pergi satu dekade lalu. Semoga Allah menerima di tempat tertinggi, surga.
Amin.

 ***
                                                                                                                    Jumat, 26 Desember 2014



About Ferhat Muchtar

FERHAT MUCHTAR
Author/Tourism Writer. Dreamers. Ex Banker. Teller Sampai Teler.
Suka makan kuaci. Tukang koleksi buku.
email: ferhattferhat@gmail.com
Tulisan yang mungkin kamu suka × +

3 komentar:

  1. Selalu ada hikmah di balik semua cobaan..setelah gelombamg tsunami gelombang kedamaianpun memenuhi Aceh :)

    ReplyDelete
  2. Saat tsunami 26 Desember 2004 saya baru dapat kerja, pindah dari kota asal saya di Jawa ke Pangkalpinang. Melihat berita di sebuah stasiun TV swasta yang tiap detik tentang tsunami di Aceh membuat saya teringat teman saya yang dapat kerja di Aceh. Namun, ternyata teman saya selamat dari musibah tersebut.

    ReplyDelete
  3. I miss my lovely sister, she has gone since 2004 bg

    ReplyDelete